ECOTECHNOLOGY = ECOSYSTEM

Oleh: Ir. Otto Marwoto Mp, dkk )*

Ekoteknologi merupakan istilah yang menyatakan teknologi selaku faktor perantara antara ekologi dan ekonomi. Dengan demikian, berarti ekologi memperoleh wawasan ekonomi dan ekonomi memperoleh wawasan ekologi. Kebetulan kata ekologi dan ekonomi berasal dari kata yang sama dalam bahasa Yunani, yaitu oikos, yang berarti rumah, rumahtangga dan budidaya. Selain itu, macam teknologi yang dimiliki oleh suatu masyarakat mempunyai implikasi, baik keadaan ekologinya maupun sistem ekonominya.

 Ekologi merangkum pengertian tentang pengelolaan sumberdaya, atau mengupayakan produktifitas melalui dukungan ekosistem. Ekologi mengacu pada kecerdikan memanfaatkan unsur-unsur suatu lingkungan tertentu menjadi sumberdaya ekonomi tanpa menggoyahkan keseimbangan alam. Dengan kata lain, ekologi menempatkan segala bentuk sistem produksi, usahatani, industri dan lain-lain sebagai ekosistem.

Ketika ekologi dikaitkan dengan ekonomi, maka berubah menjadi ekologi manusia, berarti saling berkait antara manusia dan lingkungannya, serta berkait antar manusia sendiri, yang terselenggara menurut makna kehidupan dan nilai sosial yang dirancang oleh manusia itu sendiri pula.

Dalam masyarakat materialistis, perancangan makna kehidupan dan nilai sosial didasarkan pada perhitungan atau prinsip ekonomi dan condong pada sikap emansipatif yang lebih senang menonjolkan identitas diri, bebas dari peraturan nilai dan kaedah sosial, yang menganggap lingkungan hidup sebagai milik, modal atau sarana produksi dari pada sebagai sumberdaya dan dikerahkan semata-mata untuk menghasilkan barang kebutuhan yang berujud kebendaan. Sementara proses produksi dikalkulasikan dengan nilai tukar, bukan nilai pakai, sehingga bagi mereka ekonomi identik dengan dagang.

Bagi masyarakat materialistis, pertumbuhan dijadikan sasaran pembangunan dan bukan merupakan sarana. Mereka selalu mencantumkan harga pada segala sesuatu dan menganggap sesuatu merupakan kegagalan kalau tidak dapat ditentukan harganya. Tidak ada kenyataan yang benar kecuali yang dapat diberi harga.

Pembangunan pertanian berwawasan ekologi jelas tidak dimaksudkan untuk kembali ke metode produksi seperti zaman nenek moyang dulu, tetapi sebagai suatu konsep untuk melaksanakan pembangunan pertanian dengan tidak melupakan sejarah budaya, keterampilan dan etnoteknologi di kalangan masyarakat petani, sehingga lebih dapat memberikan makna dan tidak tercerabut dari lingkungan alam yang menjadi dasar dari segala aktifitas manusia.

 

EKOTEKNOLOGI PERTANIAN INDONESIA = PERTANIAN RAKYAT

Ciri menonjol pertanian Indonesia adalah kekhasannya dalam hal lingkungan. Landasan biologi dan sistem produksi yang sangat terdesentralisasi, dengan jumlah pelaku produksi yang banyak, menyebabkan pertanian berbeda sama sekali dengan industri. Setiap petani telah mengembangkan sistem pertaniannya sendiri, baik dilihat dari segi fisik maupun sosial. Karena itu (agak) berbeda di daerah satu dengan daerah lainnya.

Dalam industri, setiap inovasi bersifat potensial. Tetapi di dunia pertanian tidak demikian. Itulah sebabnya mengapa alih teknologi di dunia pertanian begitu sulit dan lamban, tidak seperti di dunia industri. Bagaimana pun gencarnya kemajuan teknologi yang dihasilkan manusia tidak akan memberi arti apa-apa kalau tidak mendapat respon semestinya dari masyarakat, atau mendapat respon tetapi malah disalahgunakan atau disalahartikan.

Pada tahun 1983 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian RI, membentuk Kelompok Penelitian Agroekosistem (Kepas). Kelompok ini bertugas mendokumentasikan dan menganalisis agroekosistem Indonesia yang begitu beragam, kemudian mengkajinya untuk menemukan jalan mengembangkan masing-masing secara selaras, baik menurut pertimbangan sosial maupun menurut pertimbangan ekologi. Kehadiran kelompok ini menandai suatu tonggak pembaharuan konsep pembangunan pertanian Indonesia. Namun hasil kegiatan kelompok ini justru tidak mendapat respon semestinya dari kalangan birokrat yang seharusnya bertanggungjawab langsung terhadap perjalanan dan keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia.

Pemikiran para birokrat Indonesia baru agak terbuka ketika beberapa tokoh politik dunia berteriak tentang keharusan memperhatikan ekosistem atau lingkungan dalam pembangunan pertanian. Mereka umumnya menegaskan bahwa pertumbuhan tidak dapat disebut perkembangan bila ternyata menyebabkan terjadinya kemunduran lingkungan. Revolusi hijau yang dilaksanakan secara gegap gempita di seluruh negara dunia ketiga, terutama di Indonesia, dikecam sebagai kebijakan perusak lingkungan terparah di dunia.

Di Indonesia, revolusi hijau hanya mampu meningkatkan produksi padi tetapi tidak mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Akibatnya, kemiskinan menumpuk di wilayah yang mayoritas penghuninya adalah petani dan perasaan antipati terhadap pertanian tumbuh subur di jiwa generasi muda pedesaan sehingga mereka memilih urban ke kota. Menjadi kuli bangunan, tukang becak, penjual sayur, pemulung, pengemis, pengamen dan bahkan pengangguran di kota. Bagi mereka, lebih terhormat jadi sampah kota dari pada harus jadi petani di desa. Sementara yang coba bertahan, ibarat berendam dalam air setinggi leher. Apalagi ketika diketahui bahwa revolusi hijau telah menyebabkan rusaknya lingkungan fisik secara nyata.

Ada satu fakta yang dilupakan para birokrat Indonesia. Sebagian besar rakyat Indonesia hidup dari mengusahakan lahan dengan sistem usahatani kecil atau yang sering dicibir sebagai pertanian rakyat. Petani gurem. Namun kenyataannya, pertanian rakyat yang memegang peranan besar dalam menopang perekonomian Indonesia. Dengan begitu, saham pertanian rakyat terhadap kemajuan dan kemakmuran masyarakat perkotaan di Indonesia tidak terbilang besarnya. Sebab pertanian rakyat menghasilkan :

  1. Pangan 100%

  2. Perkebunan hampir 100%, yang kalau dirinci adalah sebagai berikut :

    1. Cengkeh, kapuk, kelapa, pala, lada dan panili 100%

    2. Karet 83%

    3. Teh 37%

    4. Kopi 94%

    5. Kelapa Sawit 40%

    6. Tembakau 97%

    7. Tebu 59%

    8. Kakao 36%

Hanya sebagian kecil saja hasil pangan dan perkebunan yang harus diimpor oleh masyarakat kota. Masyarakat desa sama sekali tidak memerlukan barang-barang impor kecuali sandang dan keperluan sekunder. Sementara tenaga kerja yang terserap dalam pertanian rakyat mencapai 55% dari total penduduk Indonesia yang berumur di atas 10 tahun.

Kenyataan ini seharusnya disadari oleh para birokrat bahwa pembangunan nasional hanya bisa berjalan kalau usahatani kecil atau pertanian rakyat juga berjalan. Karena itu strategi pembangunan nasional harus disesuaikan dengan kenyataan ini. Penyusunan strategi pembangunan harus dimulai dari kebutuhan, sumberdaya dan kemampuan aktual petani kecil, berdasarkan pengenalan sistem usahatani dan pola pertanaman yang sesuai dengan kebutuhan para petani.

Usahatani kecil yang subsisten (pertanian rakyat) lebih dari sekadar upaya mencari penghasilan. Kegiatan itu merupakan suatu gaya hidup. Hambatan sosial maupun hambatan biologi akan mempengaruhi perkembangannya. Sebab dalam usaha tani semacam itu berlaku sistem masukan dan imbalan (reward), bukan masukan dan keluaran seperti dalam usahatani komersial.

Upaya merakit teknologi yang selaras untuk diterapkan pada usahatani subsisten selama bertahun-tahun belum juga membuahkan hasil. Penerapan teknologi yang dirakit oleh negara maju, justru makin memperburuk wajah pertanian Indonesia. Sebab teknologi dari negara maju adalah untuk menjawab tantangan kelimpahan lahan dan modal, tetapi mengalami kelangkaan tenaga kerja. Sementara di Indonesia, ketiga masalah tersebut nyaris tidak ada. Karena itu, teknologi yang berasaskan pada ekologi dan sosial mendesak untuk dihadirkan.

Teknologi harus dipahami bukan hanya untuk merangsang petani meningkatkan produktifitas dan keluaran usahataninya, tetapi juga harus memiliki makna sumberdaya dan lingkungan.

Menurut konsep pertanian Lembah Hijau Multifarm, ekoteknologi sama artinya dengan usahatani organik. Konsep ini didasarkan atas empat prinsip, yaitu pengolahan lahan mengikuti sistem daur ulang yang berlangsung secara alami, hanya menggunakan pupuk organik atau pupuk hayati, tidak menggunakan pestisida kimia dan pada kondisi terpaksa hanya memakai konsep pengendalian hayati dengan mengaplikasikan agensia hayati, serta tidak mengenal sistem pemberantasan gulma melainkan mengendalikan.

POLA PERLINDUNGAN TANAMAN DI INDONESIA

Era globalisasi ditandai dengan menyatunya dunia dalam suatu tatanan ekonomi, tanpa mengenal batas-batas. Setiap negara akan saling mempengaruhi dan saling tergantung dengan negara lain. Sektor pertanian sebagai bagian dari saka guru perekonomian tidak luput dari pusaran tersebut.

Perubahan dalam sistem budidaya pertanian, khususnya perlindungan tanaman, terjadi secara cepat dengan arah serta dampak yang seringkali tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

Menghadapi perkembangan tersebut, perlu upaya membangun dan mengembangkan budaya masyarakat pertanian agar lebih mampu menerapkan pola perlindungan tanaman yang bersih dari kehadiran unsur kimia sehingga bisa dihasilkan produk-produk pertanian yang mampu bersaing, baik persaingan kualitas maupun harga, di pasaran internasional.

Di Indonesia, perlindungan tanaman seharusnya mempunyai landasan hukum yang kuat. Sebab dalam UU No. 12 Tahun 1992, tentang Sistem Budidaya Tanaman, disebutkan bahwa perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). UU ini masih didukung oleh PP No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman, dan UU No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan.

Dengan mengacu pada ketiga landasan hukum tersebut, maka perlindungan tanaman dapat dilakukan dengan pencegahan masuknya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) ke dalam wilayah negara RI, pengendalian OPT dan eradikasi OPT. Di atas semua itu, perlindungan tanaman harus dilaksanakan dengan menggunakan sarana dan cara yang tidak mengganggu apalagi membahayakan kesehatan dan keselamatan manusia. Bahkan tidak boleh menimbulkan gangguan dan kerusakan sumberdaya alam maupun lingkungan hidup.

Tetapi dalam praktek di lapangan, kekuatan ketiga landasan hukum tersebut seolah tidak memiliki daya. Perlindungan tanaman justru dilakukan dengan sarana dan cara yang menyimpang dari semua kaidah yang sudah ditentukan dalam UU maupun PP. Eradikasi yang seharusnya dilakukan bila serangan OPT sudah sangat berbahaya dan mengancam keselamatan tanaman secara meluas, justru yang paling sering dilakukan dengan tanpa mengkaji lebih dulu tingkat bahaya yang ditimbulkan oleh OPT.

Era Globalisasi atau Pasar Bebas yang kaitannya dengan Penerapan Standar Mutu dan Keamanan Pangan Indonesia :

  • SNI sangat minim diterapkan

  • Keamanan pangan belum jadi perhatian

  • Sistem pengawasan produk segar belum ada

  • Produk pertanian Indonesia sulit bersaing

  • Produk impor mudah masuk ke Indonesia

  • Kepercayaan konsumen domestik diperkotaan akan produk pangan Indonesia semakin menurun.

Kalau Indonesia menerapkan SNI dengan Sistem Sertifikasi Pertanian Indonesia (Si Sakti), Eropa menerapkan Eurep GAP.

Sistem Sertifikasi dan Pelabelan Mutu serta Keamanan Pangan Produk Pertanian di Indonesia diperkuat dengan terbitnya UU no.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, PP no.69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan dan PP no. 28/2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi pangan.

Permasalahannya, kondisi usaha tani Indonesia saat ini masih berkutat pada :

  • Ketersediaan benih unggul kurang. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar benih unggul disediakan melalui impor

  • Praktek budidaya yang dilakukan petani kurang efisien dan produktif

  • Penggunaan bahan agrokimia yang berlebihan dan atau tidak tepat sasaran

  • Mutu produk yang dihasilkan rendah

  • Pengusahaan komoditas yang kurang ramah lingkungan

  • Kelembagaan lemah, kurang efektif dan efisien

  • Harga produk sayuran berfluktuasi

Tabbel Potensi Kehilangan Hasil Produksi Pertanian oleh OPT Utama

Komoditi

2000

2001

2002

2003

Total

Rerata

Total

Rerata

B. Merah

5,4

18,3

26,4

19,0

69,2

17,3

553,7

138,4

Cabai

11,2

8,9

9,9

9,9

39,8

9,9

198,9

49,7

Kubis

77,9

67,9

60,5

27,5

233,9

58,5

467,9

116,9

Kentang

209,0

126,2

91,7

65,6

493,13

123,3

246,5

61,6

Tomat

4,4

12,8

9,3

9,1

5,6

8,9

35,6

8,9

871,6

328,7

1.502,7

734,3

Tanaman sampai saat ini berhasil diidentifikasi bahwa di Indonesia terdapat inang untuk tempat tumbuh dan berkembangbiaknya OPT sekitar 63 famili, yang terdiridari 600 spesies. Di antaranya adalah Gossypium, lycopersicon esculentum, gerbera jamesonii, capsicum annum, nicotiana tabacum, ipomoea batatas, manihot esculenta, euphorbia pulcherrima, sinningia speciosa, lactuca sativa, cucumis sativus, abelmoschus esculentus, phaseolus vulgaris,solanum melongena, brassicaceae, glycine max, piper nigrum, solanum tuberosum, hibiscus, ageratum.

)* Team Laboratorium Hayati Agrikencana Perkasa, PT

 logo-agrikencanappgmutu