Integrated Farming System

Integrated Farming System

(Sistim Pertanian Terpadu)

Revolusi Hijau (Green Revolution) sebagai konsep development yang diperkenalkan Amerika bagi negara ketiga dalam bentuk program industrialisasi dan modernisasi pertanian memang telah membuahkan hasil yang menakjubkan. Di Indonesia melalui program BIMAS, INMAS, INSUS maupun SUPRA INSUS, telah meningkatkan produktifitas pertanian (padi) meningkat hingga dua kali lipat dibanding produksi pada tahun 1960-an. Bahkan puncaknya, negara kita berhasil mengubah dari negara pengimport beras menjadi berswasembada pada tahun 1984.

Kisah sukses yang dramatis tersebut akhirnya berakhir setelah beberapa tahun kemudian negara kita kembali menjadi negara pengimport beras, bahkan puncaknya terjadi pada tahun 1998 negara kita mengalami krisis beras yang berawal dari badai krisis moneter sejak Juli 1997 dan berkembang menjadi krisis multidemensi yang lestari hingga sekarang.

Keberhasilan penerapan Revolusi hijau selain telah berhasil meningkatkan produktifitas, dalam jangka panjang ternyata menimbulkan dampak negatif sebagai akibat pemakaian pupuk kimia dan pestisida yang terus menerus yang menimbulkan kerusakan lingkungan baik Abiotik (kimia maupun fisik tanah), Biotik (biologis tanah),maupun Culture (ketergantungan iptek, ekonomi, budaya, dan politik).

Memasuki abad 21, aspek lingkungan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Gaya hidup sehat dengan slogan “Back to Nature” telah menjadi trend baru masyarakat dunia. Orang semakin menyadari bahwa penggunaan bahan-bahan kimia non-alami, seperti pupuk dan pestisida kimia sintesis serta hormon tumbuh dalam produksi pertanian ternyata menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Gaya hidup demikian telah mengalami pelembagaan secara internasional yang diwujudkan melalui regulasi perdagangan global yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus mempunyai atribut aman dikonsumsi (food safety attributes), punya kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Adanya preferensi konsumen inilah yang menyebabkan permintaan produk pertanian organik di seluruh dunia tumbuh pesat.

Seiring dengan era globalisasi saat ini sektor pertanian kita dihadapkan pada satu kendala besar dalam menghadapi persaingan baik dari segi kuantitas, kualitas maupun kontinyuitas hasil pertanian untuk mampu bersaing dengan negara lain. Saat sekarang ini kebijakan pemerintah kita masih berkisar pada peningkatan hasil produksi (khususnya tanaman pangan) guna kecukupan kebutuhan pangan dalam negeri.

Sebagai negara agraris yang dianugerahi kekayaan dan keanekaragaman hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, sebenarnya negara kita berpotensi dan mempunyai modal dasar yang besar untuk menjadi salah satu kekuatan besar di sektor pertanian sepanjang rakyat dan bangsa kita mampu mengelolanya dengan benar.

Prospek Sistim Pertanian Terpadu (An Integrated Farming System) dengan menggunakan bahan agrokimia (pupuk dan pestisida kimia) secara terbatas yang dipadukan/diintegrasikan dengan bahan-bahan alami serta ramah lingkungan yang dikenal dengan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) diharapkan menjadi arah baru bagi sisitim pertanian konvensional sehingga kita mampu keluar dari krisis multidemensi yang masih berlangsung saat ini bahkan mampu menghadapi pasar global yang sudah berada di depan mata.

POTRET PETANI INDONESIA

petani

POTRET PETANI DAN PENGUSAHA AGROBISNIS

Memasuki dunia petani (masa kini), seperti memasuki wilayah penuh ironi dan ketidak berdayaan. Petani tidak lagi sebagai Penghasil-Pencipta dalam setiap tahapan kegiatan bertani dari hulu sampai hilir, tetapi tak lebih sebagai pekerja konsumen. Hal ini lebih diperparah dengan kenyataan bahwa setiap kegiatan dalam bertani ditentukan dari luar dirinya seperti pasar, pemerintah , perusahaan swasta dll. Kondisi diatas menggambarkan betapa ketidakberdayaan petani berhadapan dengan dunia luarnya. Kondisi ketidakberdayaan ini bukan tidak disadari oleh petani , namun kesadaran dalam diri petani tampaknya belum cukup untuk bersikap kecuali keluar dari dunia tani atau tetap “berdiri berendam dalam air setinggi leher” Kenyataan pahit inilah yang mengakibatkan generasi muda kita enggan berkecimpung dalam dunia pertanian.

Pengusaha di sektor pertanian masih menghadapi kendala yang fundamental baik dari segi permodalan, pasar, tekhnologi, minimnya sarana prasarana, efisiensi dan produktifitas yang masih rendah. Daya saing produk pertanian kita masih jauh dibandingkan dengan negara-negara asean lainnya.

Lebih tragis lagi kita sebagai negara Agraris harus menelan pil pahit dengan kenyataan bahwa hasil-hasil komoditas seperti padi terpaksa kita masih mengimport dalam jumlah besar, belum lagi produk yang lain seperti jagung, kedelai, kacang, dll.

Pertanyaan mendasar adalah bagaimana kita bisa merubah potret petani dan pengusaha agrobisnis kita?, yang pasti jawabnya bukan sekedar tekhnologi bertani, ataupun paket-paket kebijaksanaan yang lebih bersifat sentralistik.

Hal terpenting dari itu adalah bagaimana membangun sikap mental kemandirian sebagai keseharian dalam bertani. Modus bertani subsisten (pemenuhan kebutuhan sendiri) menjadi modus bertani alternatif disamping modus komersial baik di unit paling kecil yaitu keluarga petani maupun di komunitas kelompok tani.

Berpijak dari pemikiran bahwa pasar adalah merupakan surplus dari konsumsi keluarga tani, maka konsep mengintegrasikan berbagai jenis tanaman, ternak atas jalur manfaat menjadi target awal yang harus dilakukan petani. Memaksimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal, mengoptimalkan pemanfaatan limbah organik menjadi kiat sukses pengusaha agribisnis untuk mampu bersaing di pasar global.

lari

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SUSTAINABLE DEVELOPMENT)

DAN PERTANIAN BERKELANJUTAN (SUSTAINABLE AGRICULTURE)

Pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) yang berwawasan lingkungan menurut difinisi dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, kedalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu generasi masa kini dan generasi masa depan.

Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya.

Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agriculture), menurut FAO (1989) merupakan pengolahan dan konservasi sumber daya alam dan orientasi perubahan tekhnologi dan kelembagaan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan manusia secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang. Dengan demikian Pembanguanan disektor pertanian, kehutanan dan perikanan harus mampu mengkonservasikan tanah, air, tanaman dan sumber genetik binatang, tidak merusak lingkungan, secara teknis tepat guna, secara ekonomi layak, dan secara sosial dapat diterima.

Difinisi yang paling banyak digunakan saat ini pertanian berkelanjutan adalah setiap prinsip, metode, praktek, dan falsafah yang bertujuan agar pertanian layak, ekonomi, ekologi, dapat dipertanggungjawabkan, secara sosial dapat diterima, dan berkeadilan secara budaya sesuai serta berdasarkan pendekatan holistik. Paradigma (suatu kerangka dan pola berpikir yang digunakan untuk mengartikan dan menjelaskan kenyataan tertentu) lama atau paradigma konvensional yang lebih berorientasi pada tekhnologi produksi akan digeser oleh paradigma yang berwawasan lingkungan.

LEISA

Konsep LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) sebagai arah baru bagi pertanian konvensional (HEIA : High External Input Agriculture), sangat cocok dilaksanakan pada sistim pertanian negara-negara berkembang termasuk Indonesia mengingat negara kita dengan kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam yang terkandung di tanah air kita sangat memungkinkan konsep LEISA ini menjadi konsep pertanian masa depan yang diharapkan mampu mengantarkan bangsa kita menjadi bangsa yang besar dengan tingkat kemakmuran dan kemandirian yang lestari sehingga mampu bersaing menghadapi persaingan bebas pada waktu yang akan datang.

Konsep LEISA merupakan penggabungan dua prinsip yaitu agro-ekologi serta pengetahuan dan praktek pertanian masyarakat setempat/tradisional. Agro-ekologi merupakan studi holistik tentang ekosistim pertanian termasuk semua unsur lingkungan dan manusia. Dengan pemahaman akan hubungan dan proses ekologi, agroekosistim dapat dimanipulasi guna peningkatan produksi agar dapat menghasilkan secara berkelanjutan, dengan mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan bagi lingkungan maupun sosial serta meminimalkan input eksternal. Secara singkat konsep LEISA dapat dijabarkan sebagai berikut:

leisa

SISTIM PERTANIAN TERPADU

ifs-2

Sistem Pertanian Terpadu (An Integrated Farming System) adalah suatu sistem pertanian yang mengintegrasikan beberapa unit usaha dibidang pertanian (pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan dan kehutanan), dikelola secara terpadu, dan berorientasi ekologis, sehingga diperoleh peningkatan nilai ekonomi, tingkat efisiensi dan produktifitas yang tinggi. Konsep pada sistem pertanian terpadu ini menganut hukum “ The Law Of Return” dimana Sebuah komoditas pertanian (misalkan tanaman padi) tidak hanya dipandang sebagai penghasil pangan (food) saja melainkan juga menghasilkan sumberdaya lain yaitu pakan ternak (feed). Disamping sebagai penghasil pangan dan pakan limbah organik petanian yang tidak dapat dipergunakan sebagai pangan dan pakan diupayakan sedemikian rupa, melalui proses alami, limbah organik dijadikan sebagai pupuk organik yang nantinya harus dikembalikan ke tanah sebagai pupuk tanah maupun makanan bagi tanaman (plant nutrien). Dengan pemanfaatan limbah pertanian (misal jerami) sebagai pakan ternak diharapkan diperoleh penghematan biaya produksi ternak disamping juga diperoleh hasil samping berupa limbah peternakan (telkensap/tletong dan kencing sapi) yang secara bersamaan diolah dingan limbah pertanian lainnya sehingga menghasilkan pupuk organik lengkap dan berdaya guna yang lazim disebut Fine Compost. Siklus dalam sistem pertanian terpadu ini diharapkan tidak terputus sehingga akan diperoleh hasil akhir berupa suatu konsep pertanian yang tanpa limbah (zero waste), berdampak pada perbaikan lingkungan (ramah lingkungan), hasil yang maksimal dan marketable dan pada akhirnya konsep ini diharapkan mampu mensejahterakan masayarakat dan dapat dicapai tingkat kemandiriannya. Jikalau konsep ini dapat dikembangkan pada suatu kawasan / wilayah tertentu maka sasaran akhirnya adalah terciptanya kemandirian suatu wilayah yang hal ini sangat sesuai dengan konsep otonomi daerah yang saat sekarang ini sedang giat-giatnya diprogramkan oleh pemerintah kita. Adapun diagram hukum The Law Of Return dapat digambarkan sebagai berikut:

ifs-1

Dalam penerapan sistim pertanian terpadu pengaplikasian konsep LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) sangat mutlak dijalankan sehingga sasaran akhir yaitu terciptanya tingkat kemandirian masyarakat dapat berlangsung lestari

KIAT PEMBENTUKAN INTEGRATED FARMING SYSTEM

Keberhasilan sebuah penerapan pertanian terpadu sangat tergantung dari pemilihan komponen usaha yang diintegrasikan dan menangkap peluang potensi lokal yang ada sekaligus memberdayakannya menjadi output yang marketable diterima pasar. Kiat-kiat penting tersebut dapat di rangkum sebagai berikut:

  • Pengamatan dan observasi terhadap kemungkinan sumberdaya lokal yang berpotensi untuk dikembangkan
  • Memilih komponen usaha yang dapat memanfaatkan komponen lokal semaksimal mungkin dan menekan seminimal mungkin input dari luar.
  • Menciptakan kultur sumber daya manusia disekitar lokasi sehingga komponen lingkungan sosial dapat tercipta secara kondusif.
  • Mengintegrasikan sumber daya manusia sekitar
  • Mengaplikasi paket tekhnologi tepat guna untuk mengemas output yang dihasilkan dari proses pengintegrasian komponen usaha untuk dapat di tawarkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar maupun daerah lain yang tidak memiliki spesifikasi output yang sama
  • Meminimalkan limbah dan menekan dampak negatifnya jika terpaksa terdapat komponen limbah yang tak dapat dimanfaatkan.

PENUTUP

Sistim pertanian terpadu (An Integrtated Farming System) dengan penerapan konsep LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) merupakan arah baru bagi pertanian masa depan diharapkan mampu memperbaiki kesejahteraan petani ,membangkitkan/ menggairahkan kembali minat bertani bagi generasi muda di pedesaan, mampu menggerakkan perekonomian pedesaan dan pada akhirnya mampu mengakhiri krisis multidemensi yang melanda negara kita dan mengurangi ketergantungan kita terhadap negara lain bahkan mampu berbicara dan bersaing di pasar global.

M3361S-3034

*) Disampaikan pada Seminar “Youth Iternational Conference” Kelompok Seni KEJAR bekerjasama dengan Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam SENTRAYA BHUANA Fak. Sastra Seni Seni Rupa UNS, Surakarta 3 – 6 Agustus 2004

**) Direktur Utama PT AGRIKENCANA PERKASA