Pengendalian Hama Terpadu

PENGENDALIAN HAMA TERPADU

Oleh: Ir. Otto Marwoto MP; Ir. Dwi Hariyanto; Ir. Sri Hartati; Sulistyo Winarno Sp. Djoko Darmanto

Perlindungan tanaman merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem dan usaha pertanian. Perlindungan tanaman berperan dalam menjaga kuantitas, kualitas, kontinuitas hasil dan efisiensi produksi. Oleh karena itu perlindungan tanaman harus selalu menjadi salah satu faktor pertimbangan dan menjiwai setiap usaha budidaya tanaman dan pemasaran hasil.

Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan resiko yang harus dihadapi dan diperhitungkan dalam setiap usaha budidaya tanaman untuk meningkatkan produk yang sesuai dengan harapan. Resiko ini merupakan konsekuensi dari setiap perubahan ekosistem sebagai akibat budidaya tanaman yang dilakukan. Sedangkan ketidaktentuan iklim merupakan suatu hal yang harus diterima sebagai fenomena alam. Perubahan atau ketidaktentuan iklim berpengaruh terhadap perkembangan OPT dan berpengaruh langsung terhadap usaha budidaya tanaman.

Kegiatan perlindungan tanaman di dalam sistem produksi terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Untuk mengatasi kesenjangan informasi teknologi pengendalian OPT pada tanaman padi, diperlukan suatu pedoman rekomendasi pengendalian.

PENGERTIAN DAN ISTILAH

Sistem Pengendalian Terpadu (PHT)

Sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan dasar kebijakan pemerintah dalam program perlindungan tanaman di Indonesia, yang secara resmi tercantum pada Inpres NO. 3/1986, UU No. 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dan PP No. 6 / 1995 tentang perlindungan tanaman.

Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah pendekatan ekologi yang multidisiplin terhadap pengelolaan populasi hama yang memanfaatkan beranekaragam taktik pengendalian secara kompatibel dalam satu kesatuan koordinasi sistem pengelolaan.

Selain itu, pengendalian hama terpadu juga dapat diartikan sebagai suatu cara pendekatan yang komprehensif, cara berpikir yang baru dalam suatu manajemen dari falsafah Pengelolaan Perlindungan Tanaman. Di dalam penerapannya, baik dalam strategi, langkah operasional dan taktik atau teknik dan pelaksanaannya melalui pendekatan terpadu dari semua aspek yang mempengaruhi OPT dalam proses produksi.

Kebijakan PHT mulai berkembang sebagai koreksi terhadap usaha pengendalian hama secara konvensional yang mengutamakan penggunaan pestisida kimia secara tidak tepat dan berlebihan. Cara ini selain meningkatkan biaya prouksi, juga mengakibatkan dampak samping yang merugikan lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat

Menurut UU No. 12 dan No. 16, juga PP No. 6, pengendalian OPT dilaksanakan dengan memadukan dua atau lebih teknik pengendalian yang dikembangkan sebagai satu kesatuan tindakan, baik dalam rangka pencegahan maupun penanggulangan.

Tindakan pengendalian OPT dilaksanakan dengan cara-cara fisik, mekanik, budidaya, biologi, genetik, kimiawi dan lain-lain, yang disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi serta perkembangan teknologi.

Namun di antara cara-cara pengendalian tersebut, yang paling banyak dipilih dan ditempuh adalah pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan pestisida sintetis. Padahal cara ini mempunyai kemungkinan paling besar dalam membahayakan kesehatan dan keselamatan manusia, di samping mencemari lingkungan dan produk pertanian menjadi sangat tidak aman dikonsumsi karena terlalu banyak mengandung residu zat-zat berbahaya.

Penggunaan pestisida berspektrum luas mengakibatkan timbulnya resistensi hama, resurjensi dan ledakan hama sekunder, serta tercemarnya lingkungan.

Untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengendalian, serta untuk membatasi pencemaran lingkungan maka kebijakan pengendlian secara konvensional diubah menjadi kebijakan pengendalian hama berdasarkan pada prinsip PHT.

Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)

Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan dan menyebabkan kematian dari tanaman. OPT dikatakan sangat berbahaya bila belum pernah ditemukan di wilayah yang bersangkutan dan sifat penyebarannya sangat cepat.

Strategi Penerapan Pengendalian Hama Terpadu

Pengendalian Hama Terpadu adalah suatu cara pendekatan atau cara berpikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan ekonomi melalui pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Sasaran PHT adalah produktivitas pertanian mantap, penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat, populasi OPT dan kerusakan tanaman tetap pada aras yang secara ekonomis tidak merugikan, dan pengurangan resiko pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida.

Strategi PHT adalah memadukan semua tehnik atau metode pengendalian OPT yang kompatibel antara lain : pemenfaatan musuh alami, pengelolaan ekosistem melalui budidaya tanaman sehat, pengendalian fisik dan mekanis serta penggunaan pestisida secara bijaksana.

Prinsip Penerapan Pengendalian Hama Terpadu

Dengan mengacu pada tujuan dasar dan sasaran yang akan dicapai, maka program PHT menyangkut 4 prinsip penerapan PHT di tingkat petani yaitu :

  1. Budidaya tanaman sehat.

  • Tanaman yang sehat mempunyai ketahanan ekologis yang tinggi terhadap gangguan OPT untuk itu penggunaan teknologi produksi dalam praktek budidaya tanaman harus diusahakan pada terwujudnya tanaman sehat.

  1. Pelestarian dan pemberdayaan Musuh Alami ( Pemanfaatan MA).

  • Kekuatan unsur-unsur alami, baik dari unsur iklim, cuaca, ketahanan tanaman maupun unsur hayati lain termasuk Musuh Alami (MA) merupakan unsur penting dalam pengendalian alamiah. Musuh alami merupakan faktor pengendali peting yang perlu dilestarikan dan dikelola agar mampu berperan secara maksimum dalam pengaturan populasi OPT di alam.
  1. Pemantauan Agroekosistem Secara Teratur.

  •  OPT menimbulkan masalah jika populasinya atau intensitas serangannya telah mencapai tingkat tertentu karena masalah OPT tidak timbul begitu saja dan tidak mendadak. Biasanya OPT timbul karena interaksi antara unsur tanaman, lingkungan, OPT dan tindakan manusia yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan populasi. Pemantauan ekosistem pertanian yang intensif dan rutin oleh petani merupakan dasar analisis ekosistem untuk pengambilan keputusan dan melakukan tindakan yang diperlukan.
  1. Petani Sebagai Ahli PHT.

  • Petani sebagai pengambil keputusan dilahannya sendiri hendaaknya memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menganalisis ekosistem serta mampu menetapkan keputusan pengendalian hama secara tepat sesuai dengan prinsip-prinsip PHT, selanjutnya petani diharapkan bisa mengembangkan dirinya baik secara individu maupun kelompok tani untuk meningkatkan usahataninya dan kesejahteraan hidupnya.

Dalam Penarapan PHT, Pengamatan ekosistem merupakan kegiatan yang sangat menentukan keberhasilan dalam mengambil keputusan tentang pengendalian OPT. Kegiatan pengamatan bertujuan untuk memperoleh informasi tentang keadaan ekosistem meliputi keadaan cuaca, air, tanah, populasi OPT, Musuh alami, Kerusakan tanaman, pertumbuhan tanaman dan lain-lain.

Berdasarkan pada hasil pengamatan, petani atau kelompok tani sebagai pengambil keputusan melaksanakan analisis ekosistem untuk melihat pengaruh OPT terhadap pertumbuhan tanaman. Populasi Musuh alami perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.

Secara skematis, proses pengambilan keputusan PHT adalah sebagai berikut :

ANALISIS EKOSISTEM

————————->

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

                              I                         I

PENGAMATAN

TINDAKAN

                              I                         I

AGROEKOSISTEM

Perencanaan Ekosistem

Perencanaan ekosistem merupakan langkah awal yang perlu dailakukan dalam pengendalian OPT. Ekosistem yang direncanakan merupakan keadaan yang diharapkan tidak memberikan kesempatan bagi OPT berkembang biak. Tetapi justru memberikan kesempatan kepada unsur-unsur pengendali alami mampu bekerja seoptimal mungkin

Di tingkat lapang, perencanaan ekosistem diwujudkan dalam bentuk Rencana Definitif Kelompok / Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDK/RDKK), yang mencakup antara lain tentang rencana pola tanam, penggunaan varietas, waktu tanam, kebutuhan dan pengelolaan air, kebutuhan sarana produksi danpenyediaannya, jumlah dan waktu penyediaan sarana produksi dan perencanaan lainnya yang berkaitan dengan usahatani. Semua perencanaan ekosistem ini bertujuan untuk memberikan keadaan yang tidak menguntungkan bagi perkembangan OPT dan antisipasi terhadap berbagai kemungkinan yang timbul di lapangan. Perencanaan ekosistem akan efektif bila kelompok kelompok tani telah aktif.

Pendekatan ekositem pertanian dilakukan dengan menyederhanakan perencanaan sehingga petani mampu memahami dan melaksanakannya,. Model pendekatan yang digunakan selayaknya terus disempurnakan sejalan dengan perkembangan teknologi.

Untuk mempermudah penerapan PHT, pendekatan ekosistem didasarkan pada tahapan stadia tumbuh tanaman yang mempunyai ciri khas (karakteristik) hubungan antara tanaman, OPT, dan lingkungannya, mencakup ekosistem pra dan pasca tanam.

Dalam rangka mewujudkan pertanian sehat, perlu dilakukan pengamatan OPT, pengamatan musuh alami dan pengamatan komponen-komponen penyusun ekosistem pertanian yang lain, agar pengambilan keputusan berdasarkan komponen ekosistem pada stadia tumbuh tanaman tertentu dapat dilakukan dengan tepat.

Pengelolaan ekosistem pertanian secara menyeluruh tersebut pada prinsipnya bertujuan untuk menjaga keseimbangan hubungan antara berbagai komponen dalam ekosistem pertanian pada berbagai stadia tumbuh tanaman agar tidak terjadi lonjakan populasi OPT.

Pengendalian Kimiawi (Pestisida)

Sesuai dengan PP No. 7 Th. 1973 adalah pengendalian yang menggunakan zat kimia atau bahan lain dan jasad renik serta virus, untuk memberantas hama dan penyakit tanaman atau hasil pertanian, gulma, hewan piaraan dan ternak, hama air, jasad renik dalam rumah tangga, bangunan dan alat pengangkutan.

Pengendalian Alami

Pengendalian Alami, adalah pengendalian OPT di alam, oleh musuh alami yang sudah ada di lokasi/daerah yang bersangkutan tanpa campur tangan manusia.

Pengelolaan Ekosistem

Dalam pedoman rekomendasi ini pengelolaan ekosistem yang dibahas terbatas pada ekosistem padi sawah.

Fase Pratanam.

  1. Karakteristik ekosistem

  • Sisa tanaman, singgang, tunggul, jerami dan gulma merupakan tempat bertahan OPT (Penggerek batang, virus Tungro, bakteri dan cendawan) oleh karena itu perlu dimusnahkan untuk memperkecil sumber inokulum antara lain penggerek batang padi, tungro, tempat bakteri dan cendawan.

  • Populasi OPT pada saat sebelum tanam merupakan sumber serangan / penularan awal yang perlu diwaspadai antara alain liang/jejak aktif tikus, penerbangan OPT wereng coklat , pengegerek batang dll.

  1. Budidaya dan Pengelolaan Ekosistem

  • Pemantaapan organisasi petani/perencanaana ekosistem. Hal-hal yang perlu dipersiapkan antara lain penetapan pola tanam, penentuan varietas, waktu sebar/tanam, pengelolaan air, penyediaan kebutuhan sarana yang meliputi jenis, sarana produksi, jumlah dan waktu penyediaan. Hasil kegiatan ini diwujudkan dalam bentuk RDK/RDKK. Di daerah kronis serangan Wereng coklat dan Tungro, direncanakan pergiliran varietas sesuai dengan tetua.
  • Pengelolaan lahan.Untuk daerah kronis-endemis serangan OPT dilakukan pengolahan tanah sampai selesai baru dilakukan penyebaran benih. Dengan demikian sumber serangan akan hilang. Sedangkan untuk daerah kronis Siput murbei (keong mas) dibuat saluran di tengah sawah atau tepi pematang yang berfungsi untuk memudahkan pemasukan dan pembuangan air serta pengumpulan siput murbei.
  • Pemupukan dilakukan sesuai dengan petunjuk yang diberikan dengan menggunakan pupuk kompos.
  • Pembersihan lingkungan baik itu saluran air, semak, singgang dan sisa tanaman yang diduga sebagai tempat hidup/sembunyi atau yang sebelumnya terserang OPT , gulma dll dengan cara dimusnahkan/dibakar.
  1. Pengamatan, Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan.

  • Pengamatan populasi dan atau gejala serangan OPT pada tunggul dan sisa-sisa tanaman/singgang yang dapat dijadikan indikasi tentang keberadaan OPT sehingga perlu diwaspadai.
  • Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan dilakukan :
  • Apabila ditemukan liang-liang aktif tikus dan tanda-tanda keberadaan populasi tikus sawah, maka dilakukan pengendalian korektif. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah gropyokan, sanitasi lingkungan dan pengumpanan beracun menggunakan rodentisida antikoagulan dan pengemposan.

  • Apabila pada jerami atau tunggul-tunggul terdapat sklerotia cendawan hawar pelepah dan busuk batang, jerami atau tanggul segera dimusnahkan atau dibakar.

  • Di daerah kronis serangan penggerek batang padi putih. Dilakukan penundaan waktu sebar benih, yaitu paling tidak 10 hari setelah puncak penerbangan ngengat dari tunggul atau setelah pengolahan tanah di lahan bekas serangan selesai.

  • Di daerah kronis serangan ganjur, dilakukan pengaturan waktu sebar benih sehingga pada saat pertumbuhan tanaman fase vegetatif tidak jatuh bersamaan dengan puncak curah hujan. Tanam dilakukan + 1,5 bulan sebelum puncak curah hujan tertinggi.

  • Di daerah kronis serangan tungro, dilakukan pengaturan waktu tanam yaitu seawal mungkin agar pada saat populasi wereng hijau (vektor virus) tinggi, tanaman sudah mencapai umur diatas 60 HST, sehingga tanaman bisa terhindar dari serangan Tungro, atau sebar benih paling tidak 5 hari setelah pengelolaan tanah, sehingga wereng hijau yang mungkin masih hidup sudah tidak membawa virus.

  • Di daerah kronis anjing tanah (Orong-orong), dilakukan penggenangan lahan dan pengolahan lahan hingga rata.

  • Di daerah kronis serangan siput murbei (keong mas), ditancapkan ajir-ajir bambu untuk memerangkap telur siput murbei, memasang saringan pada saluran pemasukan air dan memanfaatkan siput untuk pakan ternak atau keperluan lain. Apabila memungkinkan dilakukan pengembangan itik sawah.

Fase Persemaian.

  1. Karakteristik ekosistem

  • Persemaian merupakan tanaman yang masih sangat muda dan sensisitif (peka/rentan) terhadap tekanan lingkungan dan OPT anatara lain Penggerek batang (kelompok telur dan ngengat), wereng coklat, tungro dan tikus.

  1. Budidaya dan Pengelolaan Ekosistem.

  • Benih yang disebarkan dipilih berdasarkan kriteria : sehat dan bermutu, tahan OPT

  • Pembuatan dan pemeliharaan persemaian dengan baik, sehingga bibit di persemaian tumbuh pendek dan kuat yang apabila ditanam akan tumbuh lebih cepat dan lebih tahan terhadap gangguan OPT.

  • Gunakan pupuk sesuai rekomendasi, karena pupuk Nitrogen yang berlebihan akan mengakibatkan bibit tumbuh tinggi tapi lemah dan lebih rentan terhadap OPT.

  • Pada daerah kronis serangan siput murbe / tikus persemaian diberi pagar plastik.

  • Apabila ditemukan gejala tungro, sawah jangan dikeringkan untuk menghindari berpindahnya wereng hijau ketempat lain.

  1. Pengamatan, Analisis ekosistem dan Pengambilan keputusan.

  • Diamati populasi kelompok telur dan ngengat Penggerek batang, Gejala kresek, Gejala Tungro, Blast, serangan tikus (tanda-tanda,liang dll) dan populasi Wereng hijau.

  • Apabila ditemukan kelompok telur Penggerek batang dilakukan pengendalian mekanis atau memelihara untuk memanfaatkan parasitoid telur.

  • Apabila dijumpai penerbangan ngengat OPT dilakukan penangkapan/ pemerangkapan pada daerah disekitar persemaian (tidak pada persemaian).

Fase Tanaman Muda ( sejak Tanam – Anakan Maksimum)

  1. Karakteristik ekosistem

  • Penyebaran pertanaman semakin luas yang berarti tersedia cukup sumber makanan bagi OPT, Pada fase ini mulai terjadi peningkatan populasi OPT dan atau infestasi / infeksi oleh OPT tertentu misalnya wereng coklat, penggerek batang, hawar pelepah, busuk batang, blast, tungro, bercak coklat, hawar bakteri dll, yang apabila kondisinya sesuai, OPT ini mampu berkembang.

  • Bagi hama tikus, nutrisi yang tersedia pada fase ini tidak cocok bagi perkembangbiakan dan peningkatan populasi.

  1. Budidaya dan Pengelolaan ekosistem

  • Dilakukan tanam serentak dalam areal yang luas (serentak memasuki masa generatif, fase matang susu atau panen).

  • Pada daerah kronis serangan penyakit disebabkan oleh cendawan tular tanah (hawar pelepah) dapat digunakan tanam sistem “legowo” (tanam sistem barisan atau larikan.

  • Diusahakan pertanaman selalu tergenang sedalam 2 – 5 cm untuk waktu sampai dengan umur 30 HST, sanitasi lingkungan dan penyiangan secara mekanis.

  1. Pengamatan, analisis ekosistem dan pengambilan keputusan.

  • Pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman, Populasi Musuh alami dan populasi OPT antara lain tikus, wereng coklat, penggerek batang, gejala tungro (gejala serangan dan populasi wereng hijau) dan gejala serangan penyakit.

  1. Analisis ekosistem dan Pengambilan Keputusan.

  • Didaerah kronis serangan tikus dilakukan pengendalian menurut teknik pengendalian yang ada antara lain : pagar plastik, perangkap bubu, Kombinasi tanaman perangkap dan perangkap bubu, pengumpanan, pengemposan dan sanitasi lingkungan.

  • Tanaman-tanaman yang menunjukan gejala tungro dicabut dan dibenamkan kedalam tanah.

  • Apabila populasi wereng batang coklat > 10 ekor/rumpun pada tanaman umur < 40 HST atau > 20 ekor / rumpun pada tanaman umur > 40 HST (> 1 ekor / tunas) dilakukan pengendalian korektif dengan menggunakan insektisida efektif yang diijinkan. Untuk meminimalkan penggunaan pestisida digunakan agens hayati Entomopatogen (Beauveria sp / Metarrhizium sp.) bila ditemukan populasi Wereng coklat (sebelum eksplosif).

  • Apabila ditemukan populasi kelompok telur penggerek batang dilakukan pengumpulan kelompok telur. Kelompok telur yang terkumpul dipelihara untuk memperoleh parasit yang mungkin keluar. Apabila pengumpulan kelompok telur tidak mungkin dilakukan dan atau serangan sundep > 10 % dilakukan pengendalian korektif dengan insektisida efektif yang diijinkan.

  • Didaerah kronis serangan siput murbei (keong mas) dilakukan pemasangan saringan pada pintu masuk ssaluran. Kelompok telur dikumpulkan dan dimusnahkan, Ajir-ajir bambu dan daun-daun yang berstektur lunak digunakan untuk memerangkap (tempat bertelur).

Fase Tanaman Tua ( sejak Primodia – Berbunga).

  1. Karakteristik ekosistem

  • Pada Fase pertumbuhan tanaman ini merupakan fase kritis terhadap serengan tikus, penggerek batang, wereng coklat dan penyakit tanaman.

  • Serangan penggerek batang pada fase ini mengakibatkan beluk dan sudah tidak bisa disembuhkan lagi serta tanaman sudah tidak mampu mengkompensasi kerusakan, sehingga tindakan korektif dengan pestisida sudah tidak dianjurkan lagi.

  • Serangan tikus makin meningkat, pertumbuhan populasi tikus meningkat pesat karena nutrisi tanaman sesuai kebutuhan reproduksi tikus. Musim kawin dan perkembangbiakan tikus terjadi pada saat tanaman padi pada fase generatif ini.

  • Pada fase ini gejala penyakit tanaman oleh bakteri/cendawan sudah nampak dan tanaman yang terinfeksi pada fase ini sulit dikendalikan.

  • Ganjur dan Tungro tidak menunjukan perkembangan dan tidak mempengaruhi hasil panen tetapi akan menjadi sumber inokulum bagi persemaian atau tanaman muda disekitarnya.

  1. Budidaya dan pengelolaan ekosistem

  • Hindari penggunaan pestisida yang tidak diperlukan untuk memberikan perlindungan kepada musuh alami yang ada di persawahan dan sekitarnya.

  • Memelihara kebersihan dan pengaturan air sawah.

  1. Pengamatan, Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan.

  • Diamati perkembangan OPT dengan lebih seksama. Kelengahan dalam melakukan pengamatan akan berakibat fatal, karena serangan OPT yang terjadi akan mengakibatkan penurunan produksi dan tanaman tidak mampu mengkompensasi lagi.

  1. Analisis ekosistem dan Pengambilan Keputusan.

  • Apabila populasi wereng batang coklat > 10 ekor/rumpun pada tanaman umur < 40 HST atau > 20 ekor / rumpun pada tanaman umur > 40 HST (> 1 ekor / tunas) dilakukan pengendalian korektif dengan menggunakan insektisida efektif yang diijinkan. Untuk meminimalkan penggunaan pestisida digunakan agens hayati Entomopatogen (Beauveria sp / Metarrhizium sp.) bila ditemukan populasi Wereng coklat (sebelum eksplosif).

  • Apabila penyakit-penyakit penting (hawar bakteri, hawar pelepah) sudah muncul diadakan pengeringan berkala dengan cara 1 hari diairi, 3 – 4 hari dikeringkan. Kegiatan ini dapat dilakukan apabila ditemukan populasi Wereng coklat.

  • Apabila timbul gejala serangan beluk, dilakukan pencabutan beluk segar dan dimusnahkan.

Fase Pematangan Bulir ( Pengisian bulir – panen).

  1. Karakteristik ekosistem

  • Pertanaman mengalami pengisian bulir sehingga ketersediaan makanan bagi hama pengisap bulir melimpah sehingga hama tersebut memiliki kesempatan berkembangbiak dengan cepat.

  • Pengelolaan air sawah sangat berpengaruh besar terhadap proses pengisian dan pemasakan bulir.

  1. Budidaya dan Pengelolaan Ekosistem

  • Menjaga pelestarian musuh alami, menjaga kebersihan lingkungan dan mengatur air sawah sehingga pertanaman tumbuh sehat.

  1. Pengamatan, analisis ekosistem dan Pengambilan keputusan

  • Pengamatan populasi hama dan gejala penyakit yang merusak bulir / malai seperti walang sangit, kepik hijau, ulat grayak, burung dan penyakit tanaman.

  1. Analisis Ekosistem dan Pengambilan Keputusan.

  • Apabila ditemukan populasi walang sangit, tindakan korektif dapat dilakukan dengan pemasangan perangkap bangkai kepiting / tulang tulang di persawahan untuk menangkap walang sangit dan kemudian dimatikan atau dengan menggunakan agens hayati entomopatogen Beauveria sp / Metarrhizium sp. untuk mengendalikan populasi walang sangit. Apabila Populasi walang sangit atau hama penghisap bulir lainnya > 10 ekor/m2,, pada saat bulir belum keras, dilakukan aplikasi insektisida yang efektif dan diijinkan.

  • Apabila serangan tikus masih terus berlanjut dilakukan pengemposan dengan asap belerang beracun dan

  • Untuk mencegah berkembangnya serangan beluk, dilakukan pencabutan beluk segar dan dimusnahkan

Sesuai dengan UU No. 12 Th. 1992 dan PP No. 6 Th. 1995, Pengendalian Hama Terpadu atau PHT adalah suatu cara pendekatan yang komprehensif, cara berpikir yang baru dalam suatu manajemen dari falsafah Pengelolaan Hama Terpadu. Di dalam penerapannya, baik dalam strategi, langkah operasional maupun taktik atau teknik, dilaksanakan melalui pendekatan terpadu dari semua aspek yang mempengaruhi OPT dalam proses produksi sehingga diharapkan akan membuahkan hasil :

  1. Aman, terhadap lingkungan (pendekatan ekologi, kelestarian lingkungan).
  2. Ekonomi, (pendekatan optimalisasi potensi produksi, biaya input murah dan harga produksi maksimal).
  3. Dapat diterima, (pendekatan sosial budaya yang tidak terpisah dari sitem dan usaha agribisnis).

Konsep pengendalian hama terpadu (PHT) muncul dan berkembang sebagai koreksi terhadap kebijakan pengendalian hama secara konvensional yang bertumpu pada penggunaan pestisida berspektrum luas yang ternyata dapat menimbulkan masalah resistensi hama, resurjensi hama, timbulnya hama sekunder, residu pada hasil petanian pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Konsep PHT didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan secara berkelanjutan dengan memadukan beberapa teknik pengendalian secara harmonis dan kompatibel dengan memprioritaskan teknik-teknik yang mempunyai dampak minimal terhadap lingkungan. Sedangkan penggunaan pestisida merupakan cara terakhir apabila cara lain tidak mampu mengendalikan OPT yang timbul

Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agriculture) adalah pertanian modern yang dipadukan dengan keselarasan alam, tetapi tidak identik dengan pertanian tradisional. Model pertanian ini mempertimbangkan kearifan lokal yang dikembangkan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mampu meningkatkan kualitas, tanpa merusak kelestarian lingkungan hidup.

Di Indonesia sistem pertanian berkelanjutan ini secara tegas telah tertuang dalam GBHN, Tap. MPR No. II/MPR/1993, yang menyatakan antara lain :

  1. Pemanfaatan sumberdaya alam dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan & kelestarian fungsi hidup serta kepentingan generasi yang akan datang.

  2. Pembangunan pertanian dalam arti luas diarahkan untuk memperbaiki taraf hidup petani & masyarakat pada umumnya.

  3. Peningkatan usaha diversifikasi, intensifikasi, ekstensifikasi, dan rehabilitasi yang dikaitkan dengan usaha agroindustri serta peningkatan penguasaan teknologi.

Agar produk pertanian mampu bersaing di pasaran dunia dan menjadi produk paling aman untuk dikonsumsi oleh manusia, sudah saatnya penggunaan pestisida dikurangi sebanyak mungkin. Kalau mungkin malah tidak digunakan sama sekali. Sebagai gantinya, Lembah Hijau Multifarm menawarkan satu bentuk konsep perlindungan tanaman dengan memanfaatkan agensia hayati.

Sejarah membuktikan. Sebelum terimbas arus gerakan ’’Revolusi Hijau’’, pertanian Indonesia yang dilaksanakan dengan cara-cara konvensional ternyata lebih memberi jaminan terhadap kesehatan dan keselamatan manusia yang mengkonsumsi produk pertanian Indonesia. Tetapi begitu terlibat dalam arus ’’Revolusi Hijau’’, berbagai kasus tentang ancaman kesehatan dan keselamatan manusia kian sering terdengar.

  1. APLIKASINYA DARI WAKTU KE WAKTU
  • PHT (integrated pest management) 1960 : Dekade abad XX Pemerintah Belanda pada tanah perkebunan

  • Program Nasional PHT 1989 s/d 1999

  • Pengendalian hayati (biological control agents)

  • Sosialisasi pada Tanaman Pangan 1998 : Dibicarakan/diperbincangkan dan diteliti oleh para pakar.

 

  ppgmutu