Integrasi Sawit Sapi

INTEGRASI SAWIT – SAPI

INTEGRASI TERNAK SAPI DENGAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT **

Ir. Andreas Gunapradangga *

* Divisi Riset dan Pengembangan Peternakan PT. Tri Bakti SarimasPekanbaru – Riau

* Workshop Investasi Pengembangan Ternak Sapi – Sawit Indonesia Malaysia; Hotel Aryaduta Pekanbaru, 18-20 September 2006

Abstrak

Usaha Peternakan menhadapi berbagai masalah. Pengembangan usaha ternak Ruminansia menghadapi penyusutan lahan, kesenjangan permintaan dengan produksi berakibat import sapi dari tahun ketahun meningkat, kelangkaan pakan serat dan konsentrat selalu selalu menjadi kendala .

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka perlu dicari pakan masa depan dan berjangka panjang. Harapan tertumpu pada hasil samping perkebunan. Hasil aplikasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa : 1 Perasan buah sawit ( palm press fibre ) dan daun kelapa sawit ( palm leaf ) dapat dipakai sebagai substitusi pakan berserat. 2). Lumpur sawit ( palm oil sludge ), dan bungkil sawit dapat dijadikan sebagai bahan konsentrat untuk unggas dan ruminansia. 3). Beberapa tanaman liar ( weeds ), rambanan ( browse ) pohon naungan tanaman perkebunan dapat dipakai sebagai suplement protein. 4). Sumber daya setempat berupa ampas sagu ( sago factory refuse ) dapat dijadikan sumber energi pada konsentrat. 5). Manfaat pakan serat bermutu rendah yang berasal dari hasil samping perkebunan kelapa sawit, kulit buah kokao dapat ditingkatkan mutunya melalui proses fermentasi dengan probiotik.

Melalui proses transformasi dengan ruminansia, hasil samping industri perkebunan kelapa sawit dapat diubah menjadi Emas merah (daging), Emas putih ( susu ) dan Emas hitam (kompos).

Hasil aplikasi tersebut memberi arah bahwa, hasil samping industri perkebunan kelapa sawit akan dapat menciptakan Agroindustri yang fenomental, dapat bersaing secara global dan akan menciptakan kebutuhan baru, pengembang peluang, menciptakan tehnologi baru dan menciptakan modal.

PENDAHULUAN

Usaha ternak Ruminansia menghadapi tantangan penyusutan lahan, dimana lahan adalah unsur utama bionomik ternak. Sejalan dengan susutnya lahan, berkurang pula peluang produksi hijauan dan persediaan hasil samping pertanian yang dapat dijadikan pakan. Sementara itu usaha ternak Ruminansia dituntut untuk memacu produksi untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri yang terus berkembang.

Namun, memacu produksi ternak Ruminansia melalui pemberian konsentrat tidaklah ekonomis; karena harganya terlalu mahal dan cenderung terus membumbung. Hal ini disebabkan karena beberapa bahan baku konsentrat masih diimport dan bahan baku asal dalam negeri bersaing dengan kebutuhan lain.

Permintaan pasar dalam negeri yang terus berkembang yang tidak diikuti dengan peningkatan produksi, tergambar dari melambungnya jumlah sapi yang diimport dari Australia ( Lihat Cattle Export by Country of Destination ).

Jumlah sapi yang diimport dari Australi sampai tahun 1997 mencapai hampir 500.000 ekor dan daging mencapai 50.000 ton, dan selama krisis, import tersebut menurun drastis tetapi tahun 2003 mendekati angka yang sama.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, pengembangan usaha ternak Ruminansia dimasa depan tampaknya bertumpu pada pemanfaatan hasil samping perkebunan. Hasil samping tersebut bukanlah limbah, tetapi sumber daya. Berbeda dengan hasil samping tanaman pangan yang tersebar pada suatu wilayah, hasil samping perkebunaan terkonsentrasi pada satu tempat, sehingga sangat ekonomis dan efisien untuk dijadikan bahan baku industri pakan.

Langkah dan upaya yang telah dilakukan oleh PT. Tribakti Sarimas.

a. Mengidentifikasi potensi, kendala dan sumber daya yang ada untuk mengembangkan usaha perkebunan kearah Integrated Farming System.

b. Perakitan tehnologi aplikatif yang sesuai dengan agroekosistem.

c. “ On – Farm Research “ untuk mencoba rakitan tehnologi tersebut.

d. Evaluasi seluruh kegiatan untuk mendapatkan pattern/ sistim yang sesuai.

e. Test – farm untuk meyakinkan bahwa pattern atau sistim telah teruji.

Kegiatan on Farm Research dan Test Farm di PT. Tribakti Sarimas.

a. Upaya pemberdayaan hasil samping perkebunan untuk dijadikan bahan baku pakan ternak dan pupuk organik (Fine Compost).

b. Upaya pemberdayaan hasil samping peternakan untuk dijadikan pupuk organik (Fine Compost)

Integrated Farming System di PT. Tribakti Sarimas.

Penerapan Integrated Farming System di PT. Tribakti Sarimas adalah menuju ke konsep LEISA ( Low External Input Sustainable Agriculture ) yaitu konsep perkebunan yang terpadu, berkesinambungan, menekan penggunaan input Ekternal dan memaksimalkan penggunaan input internal sehingga akan diperoleh suatu sistim usaha perkebunan yang efisien dan berdaya saing global.

Perlahan tapi pasti PT. Tribakti Sarimas menuju ke konsep LEISA dengan tujuan :

– Perkebunan yang terpadu/ ter-integrasi

– Perkebunan yang ramah lingkungan/ mesra alam

– Perkebunan yang tanpa limbah / Zerro waste

– Perkebunan yang berbasis lokal / Based on local resourches

– Menuju ke arah Perkebunan menghasilkan produk organik / Organic Farming

– Perkebunan yang mempunyai diversifikasi usaha berbagai produk; sehingga mengurangi resiko kegagalan usaha

– Perkebunan berdaya saing global karena sangat efisien

HASIL SAMPING KELAPA SAWIT

Contoh : Potensi Limbah Kelapa Sawit

hsl sawit

Dari diagram tersebut, yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan pakan adalah bungkil kelapa sawit ( Palm Kennel Cake ), lumpur minyak sawit ( palm oil sludge ) dan serat perasan buah sawit ( palm press fibre ).

Diantara ketiga bahan ini, bungkil kelapa sawit telah digunakan dan telah mulai dipasarkan sebagai bahan pakan ternak. Komposisinya adalah : Bahan kering 89%, Protein kasar 19%, Protein tercerna 74%, serat 13%, ME 12,2 M) / kg, Kalsium 0,30% dan Phosphore 0,7 %. Sedangkan dua bahan lainnya belum banyak digunakan di Indonesia.

Lumpur sawit ( palm oil sludge ) belum banyak dimanfaatkan sehingga menimbulkan masalah lingkungan. Pemanfaatnya memberi manfaat ganda yaitu menambah persediaan bahan pakan dan mengurangi polusi. Bahan kering lumpur sawit mengandung protein kasar 13,3% setara dengan dedak halus ( 13,0% ) dan kandungan energinya ( TDN = 74% ), lebih tinggi dibanding dedak halus ( 70% ) sehingga lumpur sawit layak digunakan sebagai pengganti dedak halus. Dedak padi merupakan bahan pakan yang paling banyak digunakan. Tidak hanya pada ternak unggas dan babi, ternak sapi perah dan sapi penggemukan juga menggunakan. Dedak padi persediaannya berfluktuasi mengikuti pola panen padi dan harganya juga berfluktuasi karena banyak permintaan, harganya cenderung meningkat terus dan mutunya sering dipalsu. Karena potensinya, lumpur sawit diharapkan dapat mengganti sebagian dedak padi dengan mutu yang lebih stabil.

Serat buah sawit (Palm Press Fibre) mempunyai kandungan energi (TDN = 56 % ) sedikit lebih unggul dibanding rumput tetapi protein kasarnya sedikit lebih rendah. Disamping itu serat buah sawit kurang disukai ternak. Dengan teknologi menggunakan Probiotik dan penambahan urea, protein kasarnya dapat ditingkatkan dan karena strukturnya jadi lunak maka akan lebih disukai ternak.

Uji coba pakan.

Serangkaian uji coba pakan dengan menggunakan serat buah sawit sebagai pengganti rumput dan lumpur sawit sebagai pengganti dedak pada sapi perah jantan dengan bobot awal 190 + 11,2 kg sebanyak 24 ekor.

Ransum kontrol terdiri dari 30% rumput lapangan + 30% dedak + 40% konsentrat ( dry matter basis ).

Faktor A adalah serat buah sawit terdiri dari 0%, 15% dan 30%. Serat buah sawit sebelumnya difermentasi dengan Probiotik 0,6% dan urea 0,6% selama 2 minggu.

Faktor B adalah lumpur sawit juga terdiri dari 0%, 15% dan 30%

Hasilnya dapat dilihat tabel berikut.

tabel1

Dari tabel dapat dilihat bahwa konsumsi bahan kering dan kenaikan berat badan tidak berbeda nyata, sehingga dapat disimpulkan bahwa serat buah sawit setelah difermentasi cukup disukai ternak dan kalau kita lihat bahwa deposisi lemak pada penggunaan serat buah sawit lebih rendah tetapi deposisi protein tubuh lebih tinggi. Dapat disimpulkan bahwa serat buah sawit setelah di fermentasi dengan Probiotik, tetap lebih fermentable di Rumen sehingga banyak dihasilkan NH3 untuk pembentukan protein tubuh. Juga tampak pada retensi Nitrogen yang menggunakan serat buah sawit cenderung lebih tinggi.

Dari tabel tersebut juga tampak bahwa substitusi total dedak padi dengan lumpur sawit ( lumpur sawit 30% ) dalam tiap level serat buah sawit selalu tampil dengan performance yang terbaik. Hal ini menandakan bahwa lumpur sawit lebih unggul kualitasnya dibanding dengan dedak.

Uji coba yang lain adalah keunggulan lumpur sawit pada produksi susu.

Percobaan dengan mengganti dedak dengan lumpur sawit pada sapi perah laktasi. Ransum kontrol terdiri dari rumput gajah 36,5% ubi jalar 17%, rumput lapangan 6,5%, dedak 12% dan konsentrat 28% ( dry matter basis ).

Dedak diganti 1/3, 2/3 dan 3/3 bagian dengan lumpur sawit, sehingga prosentase lumpur sawit dalam ransum menjadi 0%, 4%, 8% dan 12%.

dedak - sludge

Potensi sumberdaya setempat yang belum dimanfaatkan.

Potensi sumberdaya setempat yang belum dimanfaatkan adalah ampas sagu ( sago factory refuse ), dan daun kelapa sawit ( palm leaf ).

Komposisi ampas sagu adalah : Bahan kering 85%, protein kasar 0,5%, BETN 65,7%, serta 5%, ME 10,0 m) / kg Ca 0,04% dan P 0,02 %, serat dan daun kelapa sawit hasil analisa sementara adalah bahan kering 60%, BETN 62,2%, serat 15,2%, Protein kasar 16%, ME 9,25 m)/kg Ca 0,8% dan P 0,4%.

Disamping itu masih ada hasil samping lain di PT. Tribakti Sarimas yaitu bungkil kelapa dan komposisi bahan kering 90%, Protein kasar 20%, BETN 42%, serat 7%, ME 12,5 m)/kg, Ca 0,2% dan P 0,7%.

Melihat komposisinya ampas sagu dan bungkil kelapa dan bungkil sawit potensinya adalah sebagai bahan konsentrat, sedangkan perasan buah sawit dan daun kelapa sawit berpotensi sebagai pengganti rumput.

AGROINDUSTRI PAKAN

Ibarat pepatah “ sehelai pohon murbei, ditangan orang bijak, akan menjadi sutera, sehelai bulu domba, ditangan orang bijak akan menjadi pakaian raja “.

Potensi hasil samping perkebunan tersebut saat sekarang diolah menjadi pakan ternak lengkap ( complete feed ) yaitu pakan ternak lengkap mengandung pakan berserat dan pakan konsentrat dalam bentuk pellet ( butiran ). Dengan complete feed dalam bentuk pellet akan memudahkan pemberian, pengangkutan, penyimpanan, disamping juga berfungsi sebagai pengawetan.

Complete feed juga akan membantu pemecahan masalah dalam penyediaan pakan bermutu dengan harga terjangkau, mudah pemberiannya dan sudah dalam awetan sehingga tahan lama disimpan, sehingga diharapkan dengan pemakaian complete feed, populasi ternak Ruminansia dapat ditingkatkan.

Seperti kita ketahui, petani dengan 2 ekor sapi, sudah kesulitan mendapatkan rumput terutama musim kemarau. Dengan complete feed, mereka dapat meningkatkan jumlah sapi yang dipelihara tanpa harus susah payah mengarit ( merumput ) dan waktu bisa digunakan untuk yang lain yang lebih produktif. Demikian juga pada peternakan sapi perah dan penggemukan, mereka dapat meningkatkan populasi sapinya sehingga usaha mereka lebih efisien.

PENUTUP

Dengan meng-integrasikan ternak sapi dengan perkebunan kelapa sawit dapat diperoleh manfaat antara lain:

  1. Ketersediaan bahan pakan ternak dalam jumlah yang berlimpah sehingga pemeliharaan ternak sapi lebih efisien.
  2. Memungkinkan dikembangkan industri pakan ternak / feedmill
  3. Pemanfaatan limbah perkebunan dan limbah peternakan untuk produksi pupuk organik (fine compost) untuk mencukupi pemupukan perkebunan.
  4. Integrasi ternak sapi dengan perkebunan kelapa sawit akan meningkatkan daya saing usaha, produktifitas kebun dan ternak meningkat, dan ramah lingkungan/ mesra alam.

PROSES PELLETING

Yang dimaksud sebagai pellet adalah bentuk massa bahan pakan yang dibentuk dengan menekan dan memadatkan melalui suatu lubang cetakan secara mekanis.

Secara lengkap proses pelleting ini melalui tahap grinding ( penggilingan ), mixing ( pencampuran ) serta steaming dan pelleting yang dilakukan bersama – sama dengan penekanan yang dilakukan antara Rollers yang berfungsi sebagai alat penekan dengan Die sebagai pencetak.

Untuk mendapatkan partikel yang homogen dan memudahkan penggilingan, sebelumnya dilakukan pengeringan dengan suatu alat dehidrator yang karena bentuk dan fungsinya, umumnya disebut sebagai drum drier dan alat lain yang juga harus ada adalah alat pendingin karena pellet yang keluar dari alat pencetak mempunyai suhu 1900 F sehingga perlu didinginkan.

Diagram pelleting tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

pellet

MANFAAT PROSES PELLETING PADA PAKAN TERNAK

Oleh karena proses pelleting melalui tahap penggilingan dan akibat dari penggilingan tersebut menyebabkan luas permukaan pakan bertambah, sehingga proses pelleting akan menaikan kecernaan pakan.

Disamping itu proses pelleting akan meningkatkan kepadatan pakan. Karena kenaikan kecernaan dan kepadatan pakan, maka proses pelleting juga akan meningkatkan konsumsi pakan.

Dengan meningkatkan konsumsi pakan, maka gerak laju pakan dalam saluran pencernaan juga akan lebih cepat,dan meningkatkan jumlah produk fermentasi sehingga proses pelleting akan meningkatkan produktifitas ternak.

Disamping itu manfaat dari proses pelleting adalah terjadinya denaturasi protein dan gelatinasi pati sehingga terjadi peningkatan efisiensi penggunaan zat – zat pakan tersebut manfaat lain yang diperoleh adalah kemudahan dalam pemberian pakan, transportasi, penyimpanan dan keawetan pakan.

KENDALA APABILA RUMINANSIA DIBERI PAKAN

PELLET DAN CARA PENANGGULANGANNYA.

Berbeda dengan unggas, Ruminansia apabila diberi pakan pellet kadang – kadang timbul gangguan Fisiologis pada system pencernaannya. Hal ini disebabkan karena pakan pellet sangat cepat dikonsumsi sehingga proses ruminansi ( mengunyah ) menjadi lebih pendek sehingga proses salivasi ( pengeluaran ludah ) menjadi berkurang. Ludah pada ternak ruminansia mempunyai fungsi yang penting, diantaranya adalah efek buffering, yaitu menjaga kondisi PH rumen tetap stabil sehingga proses fermentasi di rumen berjalan dengan normal. Gangguan yang disebabkan oleh hal – hal tersebut diatas disebut secara umum sebagai “ Nutritional disorders “.

Untuk mengatasinya, kami sudah menemukan cara dan sudah teruji dengan baik, yaitu dengan menambah “ Buffers “ yaitu campuran antara Natrium Bicarbonat, Magnesium Oksida dan Asam Glamber yang berfungsi untuk menstabilkan PH rumen apabila ruminansi memakai pakan pellet, sehingga nutritional disorders.

Produk Pendukung: Probiofeed, Probiodex, Probiota