Jamur Akar Putih Tanaman Karet

JAMUR AKAR PUTIH TANAMAN KARET

Penyakit Jamur Akar Putih (JAP) yang disebabkan oleh /Rigidoporus microporus/ (Sw.Fr.) Overeem merupakan salah satu penyakit terpenting pada tanaman karet. Di Sumatera Utara dan Aceh, kerugian akibat serangan patogen tersebut berkisar antara 4-7% (Basuki, 1986).

Karena serangannya terjadi pada akar, tanaman yang terinfeksi cepat menjadi mati terutama pada infeksi yang bersifat akut. Menurut Semangun (1988) penyakit JAPteru timbul di kebun-kebun muda. Pada umumnya gejala sakit karena serangan /R. microporus/ mulai tampak pada tahun kedua dan sesudah tahun kelima jumlah tanaman yang menunjukkan gejala sakit mulai berkurang. Data yang dikemukakan oleh Semangun tersebut menunjukkan bahwa dari saat terjadinya penularan sampai dengan timbulnyagejala sakit diperlukan waktu yang cukup lama. Namun demikian dari hasil inokulasi tanaman di rumah kaca proses tersebut hanya diperlukan beberapa bulan saja. /Rigidoporus microporus/ mampu membentuk kompakan benang-benang miselium yang disebut *rizhomorf*. Rizomorf dari patogen tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang, bentuknya cukup khas dan berwarna putih sehingga sangat mudah dikenali. Rizomorf mampu tumbuh menjadi cukup panjang jauh dari sumbernya menjalar diantara celah-celah tanah atau permukaan tanah yang lembab. /Rigidoporus microporus/ mampu hidup dan bertahan pada sisa-sisa tanaman. Tubuh buah /R. microporus/ sering dijumpaipd tunggul-tunggul pohon. Penularan JAP pada tanaman umumnya terjadi melalui kontak akar terhadap sumber inokulum. Seringkali penularan terjadi pada saat tanaman masih berada di pembibitan. Gejala sakit di pembibitan biasanya belum terlihat. Namun pada saat tanaman akan dipindahkan di kantong plastik (/polybag/), rizomorf JAP sering ditemukan telah menyelimuti permukaan akar atau pangkal batang.

Berdasarkan pada tingkat perkembangannya, serangan JAP di kebun dapat dikelompokkan ke dalam empat fase:

(0) Belum ditemukan rizomorf atau miselium JAP pada permukaan akar,

(1) Rizomorf atau miselium melekat pada permukaan leher akar,

(2) Infeksi JAP telah menimbulkan kerusakan pada jaringan kulit,

(3) Infeksi JAP telah menimbulkan kerusakan pada jaringan kayu,

(4) Infeksi JAP telah mematikan tanaman.

Keberhasilan pengendalian penyakit pada setiap individu tanaman sangat tergantung kpd kejelian pekebun dalam mendeteksi beberapa fase serangan tersebut. Berhubung tingkat kerugian yang disebabkan oleh JAP berhubungan dengan jumlah tanaman yang mati dalam satu satuan luasan kebun, maka yang dimaksud dengan deteksi dini dan pengendalian di dalam tulisan ini adalah untuk tujuan penyelamatan kebun dan bukan penyelamatan individu tanaman. Penyelamatan individu tanaman merupakan salah satu komponen usaha penyelamatan kebun.

*TUJUAN* Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengendalian JAP di kebun karet muda melalui penerapan deteksi dini dan pengendalian secara biologis dan kimiawi. *

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN * Waktu yang diperlukan untuk kegiatan ini adalah empat tahun dan dimulai pada tahun kedua setelah tanam. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di beberapa lokasi di kebun-kebun bermasalah JAP. Diharapkan di setiap propinsi dapat dilakukan kegiatan penelitian yang sama.

*BAHAN DAN METODA* Kegiatan penelitian ini terdiri dari dua blok yaitu blok A dan blok B. pada blok A, deteksi dini dan perlakuan khusus pada tanaman yang diketahui terinfeksi dilakukan, sedangkan pada blok B tindakan deteksi dini dan perlakuan khusus tidak dilakukan. Deteksi dini dilakukan tiga kali dalam satu tahun. Deteksi dini dan perlakuan khusus tersebut adalah sebagai berikut: 1. Pada setiap tanaman dilakukan penilikan pangkal batang untuk mengetahui apakah terdapat rizomorf yang menempel atau tidak 2. Jika terdapat rizomorf yang menempel bagian leher akar dibuka dan dikikis untuk mengetahui fase serangan JAP 3. Setelah bagian yang terinfeksi dikikis, bekas luka kikisan ditutup dengan bahan pelindung akar (contoh Shell Collar Protectant). Setelah itu tanaman ditutup kembali dengan tanah 4. Jika pada waktu dilakukan deteksi di lapangan terdapat tanaman yang menunjukkan gejala sakit (biasanya fase serangan sudah mencapai fase 3 atau 4) tanaman yang bersangkutan perlu segera dibongkar, kemudian bekas lubang ditaburi 100-150 gram serbuk belerang cirrus. Jika memungkinkan penanaman ulang dilakukan sebulan berikutnya. Pada setiap blok percobaan terdapat dua faktor (yaitu: a. pengaruh perlakuan bahan kimia dan agensia hayati, dan b. pengaruh jenis perawatan bedengan) yang masing-masing terdiri dari tiga tingkat perlakuan. Tiga jenis perlakuan bahan pengendalian yang akan dipelajari adalah a) Bayleton dengan dosis 10 ml/liter tanaman dengan cara disiramkan langsung di sekitar leher akar, b) Biofungisida berbahan aktif /Trichoderma/ dengan dosis 150 gram per pohon ditaburkan langsung di sekitar leher akar, dan c) Tanpa perlakuan bahan kimia dan agensia hayati. Tiga jenis perawatan bedengan yang akan dipelajari adalah a) Tanaman penutup tanah dibiarkan menutup di sekitar leher akar yang kemudian pada setiap hari perlakuan dipangkas, b) Tanaman penutup tanah di dalam bedengan dibuka sepanjang tahun, namun di sekitar leher akar ditutup dengan serasah yang diperoleh dari hasil memangkas tanaman penutup tanah di kebun, c) Tanaman penutup tanah di dalam bedengan dibuka sepanjang tahun. Lay out percobaan tersebut digambarkan dalam bentuk diagram seperti pada gambar 1. untuk setiap kombinasi perlakuan diperlukan 100 tanaman atau sekitar seperempat hektar.

Produk terkait: GROWBAC