Pemanfaatan Baccilus Thuringiensis

PEMANFAATAN BACCILLUS THURINGIENSIS

UNTUK PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

** Andreas Gunapradangga, Ir

Komponen pengendalian Biologis didalam program managemen hama untuk komoditas utama merupakan tujuan yang bersifat khas dalam produksi pertanian yang telah maju. Oleh karena itu ini merupakan unsur yang penting ditinjau dari alasan – alasan ekonomi, pendayagunaan yang menyeluruh dan ramah lingkungan. Sering penggunaan pestisida anorganik tidak dapat dikurangi / sulit dikurangi karena telah terjadinya ketergantungan petani dalam mengelola usaha taninya dan mereka tanpa memikirkan tentang keefektifan dari musuh alami.

Peningkatan keefektifan musuh alami dapat dilakukan dengan berbagai metode selain dengan memasukkan species musuh alami yang baru. Manipulasi yang cocok dari habitat dapat mendukung aksi musuh alami.

Bakteri merupakan salah satu dari golongan patogen yang dapat dipergunakan sebagai bahan pengendali biologis. Bakteri ditemukan pada semua serangga yang mati, akan tetapi relatif jarang bakteri bakteri ini sebagai penyebab utama kematian. Bacteri patogen menyebabkan penyakit pada serangga yang sehat. Pemberian inokulum bakteri dengan sengaja biasanya dari serangga yang terkena, pengaruhnya meningkat bersama – sama dengan meningkatnya dosis.

Bacteri atau juga disebut sebagai sel vegetatif adalah organisme bersel tunggal yang mempunyai ukuran lebih kecil dari jamur, namun lebih besar dari virus. Morfologi yang banyak dikenal secara umum adalah berbentuk batang (Baccillus) dan bulat (Coccus ) serta lain – lain. Berdasarkan morfologi ini pula, beberapa species bakteri dipakai sebagai dasar identifikasi untuk membedakannya dengan species yang lain. Sebagai contoh bacteri dari bangsa Baccillus adalah mempunyai bentuk menyerupai batang, sehingga species yang berada dibawah bangsa tersebut ini harus selalu memiliki bentuk yang serupa.

Bangsa Baccilus memiliki arti yang sangat penting dibeberapa bidang dalam ilmu pertanian. Sebagai contoh dlam bidang mikrobiologi pangan, bacteri ini merupakan ancaman dalam proses sterilisasi bahan pangan, karena baccillus ini dikenal memiliki sifat yang tahan panas dan mampu membentuk spora, seperti halnya bakteri dari golongan Clostridium. Didalam bidang perlindungan tanaman bacteri ini dapat untuk mengendalikan OPT dari bangsa Lepidoptera ( Ulat ). Sebagai contoh penggunaan Baccllus thuringiensis efektif digunakan untuk mengendalikan ulat daun ( Plutella xylostella ) pada kubis.

Bangsa Baccillus peranannya sebagai agens pengendali hayati , memiliki kemampuan dalam membentuk protein kristal toksin yang mampu menginfeksi yang mematikan serangga inang. Namun keefektifan protein kristal toksin dapat berkurang atau bahkan hilang sama sekali jika terkena kondisi yang ekstrim seperti derajat keasaman ( PH ) yang terlalu Basa ( Oka,1995).

Kurang lebih 50 keturunan B. thuringiensis telah ditemukan dan dipisahkan dari serangga – serangga dan diklasifikasikan kedalam 12 kelompok berdasarkan pola – pola esterase dan menurut tes – tes serologi dan bikimia.

Pemanfaatan komersialnya bateri ini adalah dewasa ini hanya dua bakteri yang diproduksi dan terdaftar untuk pengendalian serangga bidang pertanian adalah Baccillus popilliae untuk mengendalikan kumbang (diluar negeri / di Negara amerika ), Baccillus thringiensis untuk mengendalikan hama dari bangsa lepidoptera ( Ulat ) dengan nama dagang Florbac, Bactospen sp, Thurycite.

BACCILUS DAN IMPLEMENTASINYA SEBAGAI AGENS PENGENDALI HAYATI.

Bakteri atau disebut sebagai sel vegetatif adalah organisme bersel tunggal yang mempunyai ukuran lebih kecil dari jamur, namun lebih besar dari virus. Dengan asumsi ini, variasi morfologi bakteri tidak sebanyak jamur. Morfologi bakteri yang sudah dikenal selama ini adalah berbentuk batang (bacilus), Bulat (coccus) atau bentuk lain. Berdasarkan ini pula beberapa spesies bakteri dipakai sebagai dasar identifikasi untuk membedakannya dengan spesies yang lain. Sebagi contoh adalah genus Baccilus yang mempunayi bentuk menyerupai batang, sehingga beberapa species dibawah genus ini harus selalu memiliki bentuk (morfologi) yang serupa.

Genus Bacillus ini memiliki arti sangat penting di beberapa bidang dalam ilmu pertanian. Sebagai contoh dalam bidang mikrobiologi pangan yang menganggap bakteri genus ini merupakan ancaman dalam proses sterilisasi bahan pangan karena Baccilus dikenal memiliki sifat yang tahan terhadap panas dan mampu membentuk spora, seperti halnya bakteri genus Clostridium (Silliker et al, 1980) Namun dibidang perlindungan tanaman, genus Bacillus ini dikenal sebagai agens hayati yang cukup efektif dalam menekan OPT sasaran seperti pada penggunaan Bacillus thuringiensis untuk mengendalikan Cukup rumit dan sangat berpengaruh terhadap keefektifan penggunaan agens hayati. Sejumlah tanaman menghasilkan senyawa-senyawa anti mikroba seperti terpenoid, phenol dan nikotin yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri genus Bacillus ini (Oka, 1995) Untuk itu, pemahaman yang mendalam terhadap ekosistem pertanian setempat sangat diperlukan dalam keberhasila penerapan agens hayati ini sebagai alternatif pengendalian OPT yang mengacu konsep PHT.

METODE PERBANYAKAN.

Bahan : Susu tepung, tepung ikan atau ikan segar, garam dapur, air bersih dan bibit bakteri entomopathogenik.

Alat : Ransang atau periuk, kompor, timbangan meja, botol/jerigen plastik volume 1 liter, sendok.

Cara Kerja :

1. Timbang 20 gram tepung susu, 10 gram tepung ikan atau 30 gram ikan segar yang sudah digiling halus dan 5 gram garam dapur.

2. Tuangkan 1 liter air kedalam periuk/ransang dan masukan 20 gram tepung susu, 10 gram tepung ikan atau 30 gram gilingan ikan segar dan 5 gram garam dapur, lalu aduk ssampai rata.

3. Seterusnya campuran larutan tersebut dimasak selama 15 menit mulai saat mendidih, setelah itu didinginkan.

4. Setelah dingin, tuangkan kedalam jirigen, lalu diinokulasikan bibit bakteri entomopatogenik sebanyak 1 cc dengan jalan meneteskan bibit bakteri tersebut sebanyak + 15 tetes kedalam jirigen. Tutup jirigen dan buat lubang pada tutup jirigen dengan peniti panas (untuk mengeluarkan gas dari dalam jirigen dan agar udara bisa masuk kedalam jirigen).

5. Letakan di rak-rak, setelah 1 minggu sudah dapat diaplikasi ke lahan.

Cara Aplikasi :

1. Goncang jirigen yang berisi bakteri entomopatogenik dan ambil 30 – 40 ml. lalu diaduk dengan 1 liter air bersih, masukan ke dalam tangki semprot (pakai saringan) lalu tambahkan air bersih sebanyak 8 – 9 liter, jika perlu tambahkan zat perekat atau pupuk daun.

2. Aplikasi sebaiknya dilakukan sore hari.