Pengendalian Hama & Penyakit Tanaman Padi

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI DAN PENGENDALIANNYA

Berisi Tulisan mengenai Pengendalian Hama dan penyakit yang ada pada tanaman Padi di mulai dari Bioekologi hama dan penyakit tanaman padi, pengendalian baik secara kimia maupun pengendalian secara hayati.

Oleh: Andreas Gunapradangga, Ir

A. HAMA TANAMAN PADI

a. Tikus sawah ( Rattus argentiventer Rob & Kloss )

Bioekologi :

Bagian punggung berwarna coklat muda berbecak hitam, perut dan dada putih. Panjang kepala dengan badan 130-210 mm, ekor 120- 200mm, dan tungkai 34-43 mm. Jumlah putting susu tikus betina 12 buah, 3 pasang di dada dan 3 pasang di perut.

Kepadatan populasi tikus berkaitan dengan fase pertumbuhan tanaman padi. Serangan tikus dapat terjadi sejak di pesemaian, pertanaman sampai pasca panen. Pada pesemaian sampai tanaman fase vegetatif , populasi tikus umumnya masih rendah dan kepadatan populasi meningkat pada fase generatif.

Di lahan yang ditanami padi secara terus menerus ( 2 kali/tahun) puncak populasi akan terjadi 2 kali , yaitu pada saat tanaman fase generatif. Di lahan yang ditanami padi 1 kali/tahun , puncak populasi hanya terjadi 1 kali, yaitu fase generatif.

Pada saat tanaman fase generatif, kebutuhan gizi tikus jantan belum terpenuhi, untuk membuahi tikus betina. Perkembangbiakannya mulai terjadi saat primordial dan terus berlangsung sampai fase generatif. Tikus jantan siap kawin pada umur 60 hari, sedangkan tikus betina siap kawin pada umur 8 hari. Masa bunting berlangsung selama 19-23 hari. Dua hari setelah melahirkan, tikus betina mampu kawin lagi.

Jumlah anak berkisar 2-18 ekor/induk/kelahiran :

– kelahiran I : 6-18 ekor/induk.

– kelahiran II s/d VI : 6 – 8 ekor/induk.

– kelahiran VII, dst : 2-6 ekor/induk.

Secara teoritis dari 1 pasang tikus dapat menjadi ± 2.000 ekor dalam waktu 1 tahun.

Pada saat tanaman fase vegetatif, tikus hidup soliter dan di luar liang, sedang pada fase generatif, tikus hidup berpasang-pasangan dan tinggal di dalam liang.

Pada saat tanaman fase vegetatif, kontruksi liang dangkal dan tidak bercabang-cabang. Setelah fase generatif , liang dibuat lebih dalam, lebih panjang, bercabang-cabang dan mempunyai pintu lebih dari satu. Persawahan dengan pematang yang sempit ( lebar < 30 cm ), hanya sedikit digunakan sebagai tempat liang.

Luas wilayah dan jarak jelajah harian tikus dipengaruhi jumlah sumber pakan da populasi tikus. Bila sumber pakan berlimpah ( fase generatif tanaman ), jelajah hariannya pendek ( 50-125 m ) dan bila sumber pakan sedikit ( fase pengolahan tanah sampai dengan akhir vegetatif ) jelajah harian panjang ( 100- 200 m ). Migrasi tikus mencapai 1-2 km. Tetapi bila daya dukung wilayah menjamin, tikus tidak akan bermigrasi.

Untuk kelangsungan hidupnya, tikus memerlukan pakan, air dan tempat persembunyian. Keberadaan tikus di lapang dapat diketahui dengan cara pengumpanan tanpa racun yang dipasang minimal sebanyak 20 titik umpan/ha atau pengamatan jejak dan jalan lintas tikus.

TEKNIK PENGENDALIAN.

Pengendalian tikus harus sudah dilaksanakan pada saat tanaman padi di persemaian sampai anakan maksimum dengan teknik pengendalian sebagai berikut :

1. Pada saat pra tanam atau pengolahan tanah dilakukan gropyokan, sanitasi lingkungan dan pengumpanan beracun di habitatnya.

2. Tanam serentak dengan selang < 10 hari dalam areal luas (+ 300 Ha) sehingga masa generatif tanaman hampir serempak yang diharapkan pertumbuhan populasi tikus dapat dideteksi dan upaya pengendalian dapat direncanakan dengan baik.

3. Minimalisasi ukuran pematang dan tanggul disekitar persawahan sehingga mengurangi kesempatan pembuatan liang

4. Sanitasi lingkungannam persawahan (semak, rumput dan tempat persembunyian lain)

5. Pemagaran persemaian dengan plastik dan dikombinasikan dengan pemasangan perangkap bubu

6. Pada tanaman muda dilakukan pemasangan umpan beracun antikoagulan, pengemposan, sanitasi lingkungan, pemasangan pagar plastik dan dikombinasikan dengan perangkap bubu pada pertanaman yang berbatasan dengan sumber serangan

7. Pemasangan bubu yang dikombinasikan dengan pagar plastik serta tanaman perangkap. Untuk setiap + 13 ha dapat diwakili satu petak tanaman perangkap.

8. Pemanfaatan musuh alami antara lain kucing, anjing, ular sawah, burung elang dan burung hantu.

padi1

padi2

wbc1

tabel1 wbc2

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

TEKNIK PENGENDALIAN.

1. Pengaturan Pola Tanam.

Pengaturan pola tanam yang diterapkan adalah tanam serentak, pergiliran tanaman dan pergiliran varietas berdasarkan tingkat ketahanan dan tingkat biotipe wereng batang coklat

Dengan tanam serentak diharapkan tidak terjadi tumpang tindih generasi hama sehingga populasi wereng coklat tidak mempunyai kemampuan untuk berkembangbiak terus menerus, memudahkan pengamatan dan tindakan korektif apabila diperlukan. Tanam serentak juga dapat membantu memutus ketersediaan makanan hama karena adanya periode tidak ada tanaman (bera). Tanam serentak hendaknya dilakukan pada areal yang sekurang-kurangnya satu petak tersier atau wilayah kelompok tani dengan selisih waktu tanam paling lama 2 minggu.

2. Penggunaan Varietas Tahan.

Penggunaan varietas tahan dan pergiliran varietas tahan dilakukan untuk menekan dan menghambat perkembangan biotipe baru. Varietas yang digilir harus dari kelompok varietas yang memiliki gen tahan baik dalam musim maupun antar musim namun demikian penggunaan varietas tahan masih mengandung resiko karena ketahanan genetik varietas tahan dapat dipatahkan oleh adanya perkembangan biotipe wereng coklat.

3. Pengendalian Hayati.

Penggunaan cendawan entomopathogen yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan Wereng coklat antara lain : Beauveria bassiana, Metarrhizium anisopliae, M. flavoviridae dan Hersutella citriformis.

4. Eradikasi.

Eradikasi dilakukan apabila ditemukan serangan kerdil rumput dan kerdil hampa dengan pencabutan dan pemusnahan.

5. Penggunaan Insektisida.

Pengedalian dengan insektisida dilakukan apabila telah ditemukan populasi wereng coklat 10 ekor / rumpun (1 ekor / tunas) pada tanaman berumur < 40 HST dan 20 ekor/ rumpun pada tanaman berumur > 40 HST. Insektisida yang dipilih bersifat selektif, efektif dan diijinkan untuk digunakan pada tanaman padi.

Untuk daerah yang telah ditemukan serangan virus (kerdil rumput dan atau kerdil hampa) digunakan insektisida butiran 1 hari sebelum pengolahan tanah secara seed bed treatment. Dan dilanjutkan penyemprotan insektisida pda persemaian apabila ditemukan adanya populasi wereng coklat.

putih palsu

pthpalsu

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

TEKNIK PENGANDALIAN :

Ø Pengaturan air irigasi, yaitu dengan mengeringkan air pada persemaian dan persawahan yang terserang (5-7 hari) untuk mencegah perpindahan larva sehingga mati. Hal ini disebabkan larva hanya bertahan hidup bila ada air.

Ø Karen hama putih hanya menyerang tanaman muda, maka pengendalian dengan insektisida tidak dianjurkan. Aplikasi pestisida diijinkan bila intensitas serangan rata-rata > 25 %.

spodoptera

Produk terkait : ANTUSS