Uji Coba Pakan Sapi Menggunakan Serat dan Lumpur sawit

Uji Coba Pakan Menggunakan Serat Sawit Dan Lumpur Sawit

OLEH : Andreas Gunapradangga ,Ir

 

Saat ini usaha peternakan ruminansia banyak menghadapi masalah dalam penyediaan hijauan makanan ternak maupun terbatasnya sumber pakan penguat, sehingga peternakan tidak dapat efisien dan perkembangannya mengalami banyak hambatan.

Potensi hasil samping perkebunan Sawit maupun pabrik CPO berupa pelepah dan daun sawit (palm leaf), serat sawit (palm press fibre), dan Lumpur sawit (palm sludge) yang banyak terdapat di propinsi Riau merupakan sumber bahan pakan ternak ruminansia yang ketersediaannya sangat melimpah.

Namun demikian karena belum ada data yang kongkrit mengenai pemanfaatan hasil samping perkebunan tersebut guna mensubstitusi pakan pada budidaya ternak ruminansia, kami dengan Dinas Peternakan Propinsi Riau mengadakan penelitian dan kajian tentang pemanfaatan limbah/ hasil samping perkebunan tersebut menjadi pakan ternak ruminansia.

Kami berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi kemajuan peternakan umumnya, masyarakat peternakan ruminansia khususnya.

 

I. PENDAHULUAN

Usaha ternak Ruminansia menghadapi tantangan penyusutan lahan, dimana lahan adalah unsur utama bionomik ternak. Sejalan dengan susutnya lahan, berkurang pula peluang produksi hijauan dan persediaan hasil samping pertanian yang dapat dijadikan pakan. Sementara itu usaha ternak Ruminansia dituntut untuk memacu produksi untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri yang terus berkembang.Namun, memacu produksi ternak Ruminansia melalui pemberian konsentrat tidaklah ekonomis; karena harganya terlalu mahal dan cenderung terus membumbung. Hal ini disebabkan karena beberapa bahan baku konsentrat masih diimport dan bahan baku asal dalam negeri bersaing dengan kebutuhan lain.

Permintaan pasar dalam negeri yang terus berkembang yang tidak diikuti dengan peningkatan produksi, tergambar dari melambungnya jumlah sapi yang diimport dari Australia ( Lihat Cattle Export by Country of Destination ).

Jumlah sapi yang diimport dari Australi sampai tahun 1997 mencapai hampir 500.000 ekor dan daging mencapai 50.000 ton, dan selama krisis, import tersebut menurun drastis tetapi tahun 2003 mendekati angka yang sama.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, pengembangan usaha ternak Ruminansia dimasa depan tampaknya bertumpu pada pemanfaatan hasil samping perkebunan. Hasil samping tersebut bukanlah limbah, tetapi sumber daya (resources). Berbeda dengan hasil samping tanaman pangan yang tersebar pada suatu wilayah, hasil samping perkebunaan terkonsentrasi pada satu tempat, sehingga sangat ekonomis dan efisien untuk dijadikan bahan baku industri pakan.

II. TUJUAN PENELITIAN.

Tujuan utama penelitian ini dapat diurakan sebagai berikut:

  1. Eksplorasi dan identifikasi sumber pakan alternatif dari limbah perkebunan Kelapa sawit dan pabrik CPO.

  2. Perakitan tekhnologi tepat guna untuk pengolahan pakan alternatif yang bersumber dari limbah perkebunan kelapa sawit dan pabrik CPO.

  3. Penentuan komposisi bahan pakan ternak yang berasal dari limbah perkebunan guna mensubstitusi pakan ternak yang lazim digunakan oleh masyarakat peternak.

III. HIPOTESA

Usaha Peternakan menhadapi berbagai masalah. Pengembangan usaha ternak Ruminansia menghadapi penyusutan lahan, kesenjangan permintaan dengan produksi sehingga import sapi dari tahun ketahun meningkat, kelangkaan pakan serat, dan harga konsentrat terus meningkat karena sebagian bahan pakan masih import.

Usaha ternak unggas terbelenggu pada ketergantungan bibit dan pakan import. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka perlu dicari pakan alternatif yang dapat menjadi andalan masa depan dan berjangka panjang. Harapan tertumpu pada hasil samping perkebunan.

Propinsi Riau sebagai satu wilayah dengan potensi perkebunan yang luas baik perkebunan Kelapa Sawit dan Kakao berpotensi menjadi basis pengembangan ternak sapi yang sangat kompetitif.

Eksplorasi yang telah dilakukan sejak tahun 1994 terhadap potensi limbah kelapa sawit misalnya (tabel.1), bahwa potensi biomasa tanaman kelapa sawit yang sangat besar dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan pakan ternak seperti: a. Bungkil kelapa sawit ( Palm Kennel Cake ), b. Lumpur minyak sawit ( palm oil sludge ) dan c. Serat perasan buah sawit ( palm press fibre ).

Diantara ketiga bahan ini, bungkil kelapa sawit telah lazim digunakan dan telah mulai dipasarkan sebagai bahan pakan ternak. Komposisinya adalah : Bahan kering 89%, Protein kasar 19%, Protein tercerna 74%, serat 13%, ME 12,2 Mj / kg, Kalsium 0,30% dan Phosphore 0,7 %. Sedangkan dua bahan lainnya belum banyak digunakan.

Gambar 1. Potensi Biomasa Tanaman Sawit

hsl sawit

Lumpur sawit ( palm oil sludge ) belum banyak dimanfaatkan sehingga menimbulkan masalah lingkungan. Pemanfaatan lumpur sawit ini akan memberi manfaat ganda yaitu menambah persediaan bahan pakan dan mengurangi polusi. Bahan kering lumpur sawit mengandung protein kasar 13,3% setara dengan dedak halus ( 13,0% ) dan kandungan energinya ( TDN = 74% ), lebih tinggi dibanding dedak halus ( 70% ) sehingga lumpur sawit layak digunakan sebagai pengganti dedak halus. Dedak padi merupakan bahan pakan yang paling banyak digunakan.

Tidak hanya pada ternak unggas dan babi, ternak sapi perah dan sapi penggemukan juga menggunakan. Persediaannya berfluktuasi mengikuti pola panen padi dan harganya juga berfluktuasi karena banyak permintaan, harganya cenderung meningkat terus dan mutunya sering dipalsu. Karena potensinya, lumpur sawit diharapkan dapat mengganti sebagian dedak padi dengan mutu yang lebih stabil.

Serat buah sawit mempunyai kandungan energi ( TDN = 56 % ) sedikit lebih unggul dibanding rumput tetapi protein kasarnya sedikit lebih rendah. Disamping itu serat buah sawit kurang disukai ternak. Dengan tehnologi fermentasi menggunakan Probiotik dan penambahan urea, protein kasarnya dapat ditingkatkan dan karena strukturnya menjadi lebih lunak maka akan lebih disukai ternak (palatabilitas meningkat).

  1. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian dilakukan di kandang ternak program K2I Propinsi Riau yang terleyak di Kabupaten Kampar, dilaksanakan bulan Juni sampai September 2012

V. METODOLOGI DAN PELAKSANAAN

 Serangkaian uji coba pakan dengan menggunakan serat buah sawit sebagai pengganti rumput dan lumpur sawit sebagai pengganti dedak pada sapi Brahman Cross jantan dengan bobot awal 250 + 11,2 kg, sampel sapi yang di ukur sebanyak 12 ekor, dan waktu pelaksanaan uji coba dilakukan selama 120 hari.

 Ransum kontrol, terdiri dari 30% rumput lapangan + 30% dedak + 40% konsentrat ( dry matter basis ).

 Fermentasi Serat Sawit.

 Dalam penelitian ini penggunaan serat sawit guna mensubstitusi rumput, terlebihdahulu dilakukan proses fermentasi terhadap serat sawit tersebut dengan menggunakan probiotik 0,06% dan urea 0,06%, diproses secara fermentatif selama 21 hari (gambar 2.)

Lumpur Sawit.

Perlakuan lumpur sawit untuk digunakan sebagai substitusi dedak dilakukan dengan jalan terlebih dahulu mengeringkan lumpur sawit dengan sinar matahari sampai dengan kadar air +/- 40%.

Komposisi pemberian pakan dan substitusi pakan dalam uji coba ini meliputi:

1. Faktor A

Adalah serat buah sawit fermentasi terdiri dari 0%, 10%, 20% dan 30%.

2. Faktor B

Adalah lumpur sawit juga terdiri dari 0%, 15% dan 30%

Dalam percobaan ini pengamatan terhadap obyek yang diteliti meliputi:

  1. Konsumsi bahan kering pakan (BK)

  2. Metaolisme Enerji / ME (Mj/kg)

  3. Retensi Nitrogen (g/hari)

  4. Pertambahan berat badan / PBB (kg/hari)

  5. Lemak tubuh (kg)

  6. Protein tubuh (kg)

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN.

Hasil uji coba pemberian pakan pada percobaan substitusi rumput lapang dengan serat sawit fermentasi dan Dedak dengan lumpur sawit, dapat kami sajikan pada tabel dibawah ini.

Tabel 1. Hasil Analisa Proksimat Lumpur Sawit dan dedak padi halus.

Energi dan nutrisi

Lumpur sawit (*a)

Dedak padi halus (*b)

Bahan kering %

Abu %

Protein kasar %

Lemak %

Serat kasar %

BETN %

TDN %

DE Mcal/kg

ME Mcal/kg

NEM Mcal/kg

NEG Mcal/kg

NEL Mcal/kg

Selulosa %

Lignin %

ADF %

NDF %

Kalsium %

Pospor %

93,10

12,00

13,30

18,85

16,30

39,55

74,00

3,26

2,84

1,76

1,14

1,69

18,27

4,17

23,02

39,36

0,30

0,19

87,70

13,60

13,00

8,64

13,90

50,86

70,00

3,09

2,67

1,58

0,97

1,60

13,22

2,86

19,83

42,44

0,09

1,39

 

Tabel 2. Hasil Analisa Proksimat Serat Sawit mentah, Serat Sawit Fermentasi Dan Rumput Lapangan

Energi dan nutrisi

Serat sawit mentah (*a)

Serat sawit fermentasi (*b)

Rumput lapangan (*a)

Bahan kering %

Abu %

Protein kasar %

Lemak %

Serat kasar %

BETN %

TDN %

De Mcal/kg

ME Mcal/kg

NEM Mcal/kg

NEG Mcal/kg

HEL Mcal/kg

Selulosa %

Lignin %

ADF %

NDF %

Kalsium %

Pospor %

93,1

6,46

5,93

5,19

46,80

41,62

52,0

2,47

2,84

1,18

0,61

1,75

48,60

12,91

58,61

78,33

0,54

0,13

94,2

6,41

10,20

5,10

40,1

42,1

60,20

2,49

2,93

1,20

0,72

1,82

40,6

9,23

52,4

60,32

0,57

0,17

24,48

14,5

8,2

1,44

31,7

44,2

51,00

2,25

1,82

1,00

0,45

1,13

31,03

7,80

40,32

63,61

0,366

0,230

 

Tabel 3: Pengaruh substitusi serat sawit fermentasi dan lumpur sawit terhadap konsumsi (BK) dan Pertambahan Berat Badan (PBB) pada sapi jantan Brahman Cross.

Serat buah Sawit

Lumpur

Sawit

Konsumsi BK kg/hari

ME

Mj/kg BK

Kenaikan Berat Badan

(kg/ hari)

0

0

6.36

10.9

1.36

0

15

6.01

9.85

1.33

0

30

6.43

10.8

1.42

10

0

6.51

10.2

1.33

10

15

6.64

9.91

1.30

10

30

6.68

10,7

1.39

20

0

6.60

10.4

1.42

20

15

6.69

10.1

1.44

20

30

6.74

10.5

1.52

30

0

6.56

10.1

1.51

30

15

6.69

10.6

1.56

30

30

6.88

10.6

1.60

 

Dari tabel 3. dapat dilihat bahwa konsumsi bahan kering dan kenaikan berat badan tidak berbeda nyata, sehingga dapat disimpulkan bahwa serat buah sawit setelah difermentasi cukup disukai ternak.

Dari tabel tersebut juga tampak bahwa subtitusi total dedak padi dengan lumpur sawit ( lumpur sawit 30% ) dalam tiap level serat buah sawit selalu tampil dengan performance yang terbaik. Hal ini menandakan bahwa lumpur sawit lebih unggul kualitasnya dibanding dengan dedak.

Tabel 4: Pengaruh subtitusi Serat Sawit Fermentasi dan Lumpur Sawit terhadap Retensi Nitrogen, Kandungan lemak tubuh dan Protein tubuh pada sapi jantan Brahman Cross.

Serat buah Sawit

Lumpur

Sawit

Retensi N

(g/hari)

Lemak Tubuh (Kg)

Protein tubuh (kg)

0

0

50.0

0.283

0.246

0

15

46.9

0.277

0.232

0

30

53.7

0.258

0.264

10

0

52.5

0.266

0.245

10

15

50.1

0.272

0.255

10

30

54.0

0.258

0.272

20

0

51.2

0.226

0.262

20

15

57.1

0.243

0.271

20

30

63.4

0.198

0.286

30

0

52.9

0.186

0.281

30

15

57.5

0.155

0.274

30

30

64.4

0.169

0.290

Dari Tabel 4. dapat diamati bahwa deposisi lemak tubuh pada penggunaan serat buah sawit menunjukkan kecenderung selalu lebih rendah (menurun) untuk setiap kali penambahan substitusi serat sawit terhadap rumput (pada taraf pemberian serat sawit sebesar 30% kandungan lemak tubuh paling kecil).

 Sedang deposisi protein tubuh dari data yang tersaji pada tabel 4. dapat disimpulkan bahwa setiap kali penambahan substitusi serat sawit terhadap rumput selalu memperlihatkan kecenderungan deposisi protein tubuh selalu meningkat (lebih tinggi) dan pada taraf pemberian serat sawit sebesar 30% kandungan protein tubuh paling besar.

 Demikian juga terhadap faktor retensi Nitrogen, pada taraf penggunaan serat sawit 30% diperoleh rata-rata retensi N paling tinggi dan semakin menurun pada rataf 20% dan paling rendah diperoleh pada taraf penggunaan serat sawit 0%. Dapat disimpulkan bahwa serat buah sawit setelah di fermentasi dengan Probiotik, tetap lebih fermentable di Rumen sehingga banyak dihasilkan NH3 untuk pembentukan protein tubuh. Juga tampak pada retensi Nitrogen yang menggunakan serat buah sawit cenderung lebih tinggi.

VII. KESIMPULAN

Pemanfaatan limbah perkebunan (Kelapa Sawit) berupa serat buah sawit dan Lumpur sawit sebagai pakan ternak menggantikan rumput lapangan maupun dedak dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Serat buah sawit yang sudah difermentasi terbukti mampu mensubstitusi/ menggantikan rumput lapang.

  2. Pemanfaatan serat sawit fermentasi terbukti meningkatkan retensi Nitrogen dan kadar protein tubuh dan menurunkan kadar lemak tubuh sapi Brahman cross.

  3. Pemanfaatan Lumpur Sawit sebagai pengganti dedak terbukti memberikan dampak lebih baik dari aspek pertambahan berat badan ternak sapi Brahman cross.

Hasil aplikasi tersebut juga telah memberi prospek baru dalam penyediaan pakan bersumber daya local baik dari limbah perkebunan sawit maupun dari hasil samping industri CPO sehingga dapat diciptakan sebuah Agroindustri yang fenomental yang mampu bersaing secara global.

VIII. REKOMENDASI DAN PROSPEKTUS

Guna meningkatkan daya saing dan merangsang peternak untuk dapat melakukan proses budidaya ternak sapi secara efisien dan efektif dan meningkatkan kepemilikan ternak sangat diperlukan industri penunjang berupa pabrik pakan ternak (complete feed) yang memanfaatkan sumber daya lokal berupa limbah perkebunan (serat sawit, daun dan pelepah sawit, kulit buah kakao, dll) maupun hasil samping agroindustri (bekatul, ampas sagu, bungkil sawit, lumpur sawit, dll).

Industri pakan ternak berbasis sumberdaya lokal tersebut jelas akan meningkatkan daya saing peternak karena skala kepemilikan dapat ditingkatkan tanpa harus memikirkan penyediaan pakan ternak.

 

Produk Pendukung PROBIOFEED